Religious Extremism dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi

Narasumber-1: Prof. Masykuri Abdillah Rais Syuriah Nahdlatul Ulama. Guru besar dan Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan keahlian Fikih Siyasah (Politik Islam).

Riwayat pendidikan Prof. Abdillah:

  • Sarjana Muda (BA), Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Indonesia, Syariah, 1981
  • Sarjana Lengkap (Drs.), IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia, Syariah,
    1995
  • Doktor (S3), Hamburg University, Jerman, Islamic Studies at the Department of Middle Eastern History and Culture
  • Post-doctoral program di Bonn University
  • Post doctoral program di Boston university Prof. Abdillah memaparkan

Kronologi munculnya Islam ‘garis keras’ di dunia Islam yang, ionisnya, diawali dengan gerakan atau pemikiran reformis/modernis Muslim yang ingin mereformasi Islam agar bisa mengimbangi kekuatan Barat seperti Muhammad Abduh di Mesir. Gerakan itu berpuncak pada Sayyid Qutb yang kini dianggap paling bertanggung jawab pada aliran garis keras Islam di era ini, yaitu, yang secara garis besar dinamai Salafi dan Wahabi. Menurut Prof. Abdillah keduanya mempunyai akidah yang sama meski fikih nya berbeda, dan masing-masing memiliki pengikiut dengan level moderat, fanatik, radikal, hingga ekstrem. Situasi perpecahan umat Islam di Indonesia, menurut Prof. Abdillah, sangat dipengaruhi oleh ‘proxy war’ [istilah tambahan penulis] antara Saudi dan Iran yang masing2 mempunyai misi terhadap, yang pertama, faham Sunni Wahabi sedang yang satu lagi, Syiah. Prof. Abdillah mengingatkan perlu diperhatikan adanya doktrin al-wala’ walbara’ yang terselip dalam buku2 agama di sekolah, karena jika disampaikan dengan cara yang tidak arif doktrin tersebut bisa menjadi sumber pemicu kebencian pada kelompok yang dianggap tidak se-iman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *