Hubungan Persoalan ‘Identitas’ dan Sikap Ekstrimis

Narasumber-4: Dr. Achmad Chusairi

Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Dr. Achmad Chusairi adalah pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, dengan fokus penelitian pada persoalan ‘self’ (diri) dan ‘identity’ (identitas), psikologi kritis, dan psikologi sosial. Dalam presentasinya di kajian PPMPI, Dr. Chusairi memaparkan hubungan antara persoalan ‘identitas’ dan sikap ekstrim seseorang. Di dalam khazanah ilmu Psikologi, “identitas‟ merupakan sebuah konsep yang sangat fundamental (mendasar). ‘Identitas’ adalah ‘cerita’ atau ‘representasi’ seseorang tentang ‘diri’ nya sendiri. Dalam teori psikologi tentang pikiran manusia (theory of mind), ‘representasi’ adalah proses menghadirkan sesuatu yang abstrak ke dalam pikiran manusia dengan bantuan simbol-simbol.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa semua hal atau semua ‘realitas’ di dunia manusia merupakan ‘representasi’ mereka atas hal-hal tersebut. Oleh karena itu, ‘identitas’ merupakan kebutuhan mendasar setiap orang karena dengan ‘identitas’ itulah dia dapat ‘melihat’ dirinya sendiri. Agama, ideologi, etnisitas, kebangsaan, dinasti, garis keturunan, keanggotaan organisasi massa dan politik, hingga keprofesian menawarkan ‘identitas’ pada anggotanya. Selanjutnya, ‘identitas’ berfungsi menjadi kerangka berfikir dan berperilaku bagi individu tersebut. ‘Indentitas’ nya itu memungkinkan seseorang memahami diri dan lingkungannya, serta eksistensinya, di dalam ‘ruang dan waktu’ dimana dia berada secara „nalar‟ dan teratur.

‘Identitas’ itu juga memungkinkan dia memahami dirinya dan kenyataan hidupnya secara bermakna. Di sini perlu digaris-bawahi, bahwa manusia mempunyai kebutuhan akan: 1. Kepastian, dan 2. Kebermaknaan Semua orang cenderung menginginkan segala sesuatu dapat dinalar, teratur dan dapat diprediksi. Dr. Chusairi melihat kebutuhan inilah yang menjadi sumber ke-ekstriman ketika seseorang berada dalam ketidak-teraturan dan mendapati logika yang semrawut di tengah masyarakat. Dengan kata lain, semakin plural (beragam) suatu masyarakat, serta semakin mudah terlihat olehnya ketidak-adilan dan ketimpangan sosial di sana, semakin subur masyarakat itu melahirkan ke-ekstriman.

Dalam keadaan yang demikian, agama (sebagai satu-satunya hal yang dapat diperoleh dengan ‘gratis’ tanpa biaya) menjadi tempat bernaung dari kekacauan logika dan ke-tidak-adilan. Oleh karena itulah mereka mendekati agama dari sisi-sisi yang menawarkan kepastian dan keabsolutan. Dr. Chusairi menambahkan, persoalan ini di Indonesia menjadi semakin runyam karena pendidikan di sini tidak mengenalkan siswa pada lebih dari satu perspektif sejak dini [Catatan: perlu diingat, Indonesia mempunyai dua perangkat kurikulum, yaitu: ‘kurikulum Islam’ menanamkan ‘identitas Islam’ secara absolut, dan ‘kurikulum nasional’ menanamkan ‘identitas nasional’ secara absolut pula], sehingga ketika dewasa dan menemui zaman global dimana sekat-nekat antar-negara dan bangsa telah menipis, orang Indonesia tidak terbiasa melihat persoalan dari berbagai perspektif dan cenderung berfikir tertutup dan simplistic.

Point terakhir yang menarik, ‘Identitas’ bisa bersifat cair dan bisa juga ‘rigid’ (kaku). Biasanya, seiring dengan bertambahnya usia dan semakin menurunnya kemampuan seseorang beradaptasi dengan perbedaan, perubahan dan kekacauan, semakin ‘rigid’ identitas orang tersebut (identitas agama, ideologi, etnisitas, kebangsaan, dinasti, garis keturunan, keanggotaan organisasi massa dan politik, hingga keprofesian}. Menurut Dr. Chusairi, semakin ‘rigid’ identitas seseorang semakin mudah dia menjadi ‘ekstrim’ {dalam rangka mempertahankan/membela/memperjuangkan group/kelompok yang telah memberinya ‘identitas’ tersebut).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *