Pertarungan Wacana Khilafah dan NKRI dalam Bingkai KeIndonesiaan

Narasumber-7: Siti Kholifah, S. Sos., Ph.D.
Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Dr. Kholifah adalah pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang, dengan interest di bidang political-sociology. Dalam kajian di PPMPI, presentasi yang disampaikan berjudul “Pertarungan Wacana Khilafah dan NKRI dalam bingkai KeIndonesiaan” yang diambil dari penelitian yang masih berlangsung (belum selesai). Penelitian itu memakai teori ‘discourse analysis’ Michel Foucault dalam menganalisa power (kekuasaan) melalui penggunaan ‘wacana’.

Foucault adalah sosiolog Perancis yang telah membuat konsep (me-re-konseptualisasi) ‘kekuasaan’ secara radikal. Menurut Foucault, ‘kekuasaan’ di masyarakat modern berbeda dengan di masyarakat pra-modern di masa lalu. Kini ‘kekuasaan’ bukan lagi sesuatu yang dijalankan melalui tindakan-tindakan memaksa (coercive acts) dan tindakan yang menunjukkan kedaulatan penguasa (sovereign acts), melainkan melalui penggunaan ‘bahasa’ dengan membuat wacana (discourse) dan ilmu pengetahuan (knowledge).

Penelitian Dr. Kholifah menunjukkan bahwa wacana (discourse) ke-Indonesiaan tidak lagi tunggal seperti di masa Orde Baru dimana ke-Indonesiaan adalah NKRI berdasarkan Pancasila. Kini ada wacana khilafah yang ingin dibangun oleh beberapa kelompok tertentu dan dijadikan wacana tandingan untuk NKRI. Namun, data yang terkumpul juga menunjukkan wacana khilafah vs. NKRI tersebut ‘diciptakan’ oleh kelompok lain lagi untuk meng-counter dan ‘mempertahankan diri’ dari ancaman gerakan ‘politik Islam’ pada saat Pilkada Jakarta yang salah satunya melalui gerakan 212. Dengan demikian media sosial telah menjadi tempat pertarungan wacana NKRI dan khilafah dalam bingkai ke-Indonesiaan.

Dari data yang terkumpul, intensitas yang tinggi munculnya wacana NKRI dan khilafah di twitter juga dipengaruhi konteks politik nasional, misalnya ketika kasus penistaan agama yang dituduhkan ke Ahok. Penelitian kualitatif tersebut dilakukan dengan menggunakan big data dari twitter melalui program software https://netlytic.org. Pengumpulan data mulai tanggal 10 Mei 2017 sampai 8 Agustus 2017. Analisis data berdasarkan periodisasi waktu, jaringan akun twitter dan posting yang dimunculkan dalam membentuk wacana ke-Indonesiaan. Selain itu, juga dilakukan analisa jaringan yang dimiliki oleh akun twitter baik yang ada pada cluster utama, maupun akun lain yang terhubung dengan cluster utama. Dari data yang sudah terkumpul, kata yang paling banyak digunakan dalam pertarungan wacana lewat twitter tersebut adalah: (1) khilafah dan (2) NKRI, disusul dengan (3) Pancasila, (4) HTI, (5) Ancaman, (6) Absurd, (7) Negara, (8) Gerakan, (9) Mendirikan, dan (10) Perjuangan.

Sebagai penutup Dr. Kholifah menyampaikan pendapatnya bahwa bukan tidak mungkin suatu hari wacana khilafah akan menjadi wacana dominan, terutama jika kita melihat dinamika politik Islam di Indonesia dibanding masa Orde Baru. Seandainya itu memang akan terjadi, Dr. Kholifah berharap ketika itu konsep khilafah yang dipahami oleh Umat Islam Indonesia adalah khilafah yang mengusung keadilan bagi kaum minoritas juga, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *