Ekstrimitas Beragama, Perspektif Sosiologi

Narasumber-9: Prof. Masdar Hilmy, S.Ag. M.A., Ph.D.
Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Prof. Masdar adalah Wakil Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Penelitian yang dilakukan untuk meraih gelar professor mengangkat tema “Mengurai Jalan Buntu Teoretik dalam Ilmu-ilmu Sosial: Islamisme Radikal dalam Perspektif Teori “Modus Produksi”. Dalam presentasinya di kajian PPMPI yang berjudul “Ekstrimitas Beragama. Perspektif Sosiologi”, beliau memulai dengan mendefinisi ekstrimisme beragama sebagai “sebuah ideologi dan gerakan yang menunjukkan disonansi sosiologis akibat kegagalan-kegagalan melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitar (pihak-pihak eksternal)”.

Dalam presentasi tersebut Prof. Masdar memaparkan secara garis besar tinjauan sosiologis atas ektrimisme Islam di Indonesia. Sebab-sebab sosiologis secara umum adalah:

  1. Dislokasi social, Yang dimaksud dengan Dislokasi Sosial adalah: – Keterjarakan sosiologis akibat segregasi social – Kebuntuan komunikasi social – Perbedaan kelas social akibat latarbelakang pendidikan – Rendahnya modalitas social dalam proses integrasi (bonding vs. bridging) – Ledakan demografis yang tidak berimbang antara kelompok Muslim dan nonMuslim
  2. Deprivasi ekonomi, Sedangkan Deprivasi ekonomi meliputi: – Kemiskinan absolut – Pengangguran – Akses terhadap sumber-sumber ekonomi yang terbatas/tertutup – Tingkat rasio Gini
  3. Represi politik, Yang dimaksud Represi Politik adalah: – Tekanan rezim berkuasa terhadap umat Islam – Pembatasan terhadap artikulasi politik umat Islam – Perbedaan konseptual tentang bentuk negara yang absah
  4. Ketidak-adilan global, Adapun yang termasuk Ketidak-adilan Global menurut Prof. Masdar meliputi: – Dominasi Barat (US dll) – Invasi Israel dan negara2 sekuler ke dunia Islam – Islamofobia dan diskriminasi – Kebijakan politik PBB
  5. Inferiority complex, Yang dimaksud Prof. Hilmy dengan Inferiority Complex adalah: – Ketertinggalan Islam di berbagai bidang (ekonomi, politik, militer, teknologi, dll) – Kebuntuan umat Islam menemukan jalan keluar dari segara bentuk keterpurukan

Adapun solusinya menurut Prof Masdar adalah: 1. Deradikalisasi 2. Mengembalikan keseimbangan sosiologis 3. Menekan jumlah kemiskinan, pengangguran, rasio Gini 4. Kebijakan social-politik yang adil 5. Meningkatkan kesejahteraan umat Islam

Prof. Masdar juga menyadari bahwa program deradikalisasi pun mengandung banyak kelemahan, termasuk adanya informasi bahwa Densus-88 merupakan program yang didanai oleh pemerintah Australia (angka 88 adalah jumlah korban warga Australia yang menjadi korban Bali bombing tahun 2002). Menjawab pertanyaan wartawan tentang larangan bercadar di UINSA, beliau mengatakan itu merupakan kebijakan institusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *