Apa Kepribadian Teroris?

Hafid Algristian, dr., SpKJ – Psikiater, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA).

Kejadian pengeboman di Surabaya beberapa hari lalu sempat membuat kami merasa mundur beberapa langkah. Apakah kejadian ini karena motif politik? Atau semata problema sosiologis-psikologis? Beberapa diskusi terbatas sempat menghangat di internal kami, Tim Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam (PPMPI) UNUSA.

Tak ingin terjebak pada dilema politis, kami berusaha mengembalikan arah diskusi pada khittah-nya. Kejadian ini tak hendak membuat kami berhenti, juga tak hendak mengaburkan solusi. Tanpa mengurangi empati kepada korban, termasuk kepada keluarga “teroris” itu sendiri, kami berfokus pada faktor sosiologis dan psikologis yang menyebabkan seseorang mudah terseret pada pemikiran jahat yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Resultan kedua faktor itu berujung pada pertanyaan, “Apa sebenarnya kepribadian teroris?” Kita mafhum bahwa seseorang yang menghalalkan segala cara itu cenderung memiliki kepribadian antisosial. Ia rela menerabas aturan, melanggar etika, hingga memformat ulang aturan agar ia selalu benar sedangkan yang lain
salah. Sik tunggu dulu, kita masing-masing juga punya sisi antisosial, lho. Namun masih dalam batas wajar. Yang berbahaya adalah ketika ada niatan untuk menyakiti orang lain demi keinginannya tercapai.
Di Indonesia, disebutkan terdapat 150.000 kasus kepribadian antisosial per tahun. Jumlah ini teramat banyak. Satu saja sudah bikin repot, apalagi segitu. Rentang usianya pun cukup besar, mulai remaja usia 14 tahun hingga lansia 60 tahun. Potensi kepribadian antisosial dapat dilihat dengan tiga ciri berikut; sering berbohong, melanggar aturan, bertindak impulsif (meledak-ledak tanpa rencana), cenderung pada aktivitas beresiko tinggi, dan tidak peduli pada keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Bisa disimpulkan bahwa kepribadian antisosial ini adalah sosok yang mudah membikin orang lain jengkel dan tidak nyaman.

Coba amati profil pelaku bom Surabaya kemarin. Sering salat berjamaah, aktif di pengajian, sudah tinggal di sana selama 12 tahun, dan dianggap bukan sosok yang menjengkelkan. Rajin beribadah dan bukan sosok yang melanggar aturan. Bisnisnya pun sukses sehingga mungkin bukan sosok yang suka meledak-ledak. Sering ngobrol sama tetangga dan dikatakan bukan termasuk orang yang senang melanggar aturan. Bisnisnya pun sukses, rasanya jauh dari anggapan ia punya perilaku beresiko tinggi. Bagaimana mungkin ia memenuhi unsur seorang antisosial?

Emile Bruneau, seorang dosen yang juga direktur Peace and Conflict Neuroscience Lab University of Pennsylvania, berusaha memperluas scope kajian kepribadian teroris ini dalam artikelnya di tahun 2016 “Understanding the Terrorist Mind”. Beberapa kejadian dianalisisnya. Bom di Boston Marathon dan serangan di Paris yang dilakukan ekstremis yang kebetulan Muslim. Juga serangan Anders Breivik di Norwegia yang menewaskan 69 anak-anak, dan Dylan Roof yang membunuh sembilan paroki kulit hitam di selatan Amerika.
Ia tidak ingin terjebak pada anggapan bahwa “teroris itu selalu Muslim” sebagaimana media dan awam melihatnya. Menurutnya, orang-orang yang beresiko direkrut oleh kelompok teroris semacam ISIS adalah mereka yang mengalami alienasi dari pergaulan sosialnya. Mereka yang dicampakkan, mereka yang tidak merasakan kasih sayang dari sekitarnya, adalah sosok yang mudah sekali mendapat provokasi ideologis dari kelompok teroris. Maka, rajin datang ke masjid atau grup-grup pengajian sehingga membentuk identitas sosial yang kuat, justru berkebalikandari kriteria yang ISIS inginkan.

Sejatinya kita bahagia ketika diri kita diterima, dan cenderung bersama-sama dengan orang-orang yang satu
frekuensi dengan kita. Sebagaimana kita merasa bahagia bertemu dengan orang asing dari kampung halaman, “Oh, Anda dari Gresik juga?” Bruneau menyebutkan, orang-orang yang terpinggirkan itu akan merasa bahagia ketika dirinya diterima. Segera setelah itu, ideologinya akan disusupi tergantung dengan siapa ia diterima.
Karenanya, akan sangat berbahaya jika kita saat ini berusaha mengkotak-kotakkan kelompok, dan membuat jarak antara “kami” dan “mereka”. Kikis semua perbedaan, toleransi pada bermacam pandangan, sehingga yang ada hanyalah “kita”. Jikapun ada yang tak sama, maka itulah keniscayaan. Allah subhanahu wata’ala pun menyebutkan dalam Surah Al Hujurat ayat 13, bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal. Maka, perbedaan adalah kekayaan. Bukan nestapa, apalagi derita. Sudah saatnya kita tidak membuat jarak, melainkan merangkul semua pihak. Agar tak ada lagi orang-orang yang terasing di lingkungannya sendiri. Berani? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *