Peran UNUSA Menjawab Tantangan Global

Masalah Islam dan tuntutan zaman termasuk dalam persoalan-persoalan penting yang banyak menharu-biru para cendikiawan muslim pada abad sekarang. Mereka merupakan kelompok yang memiliki kedudukan utama dalam kalangan muslim untuk terus melakukan sebuah kajian berkualitas. Dengan berbagai sudut pandang mampu menyelesaikan permaslaah yang kompleks dan akan terus berkembang.

Dalam hal ini ada dua masalah yang menuntut pemecahan se-segera mungkin. Kedua masalah itu meliputi. Pertama, pentinganya mengenal dan mengetahui secara benar ajaran Islam yang murni sebagai bentuk filsafat sosial dan keyakinan ketuhanan, aturan pola pikir, dan kepercayaan yang konstruksif, komprehensif, dan akan mengantarkan manuisa pada kebahagiaan. Kedua, pentingnya mengenal dan mengetahui kondisi dan tuntutan zaman. Demikain pula halnya dengan kemampuan membedakan dan memisahkan hasil-hasil kemajuan pengetahuan sains dan fenomena-fenomena yang menyimpang yang memicu tumbuh dan berkembangnya segala bentuk kemerosotan, kemunduran serta perpecahan.

Dalam tantangan zaman pun masih banyak sekali aspek dan sudut pandang yang berkaitan dengan keagamaan. Diantaranya  Islam secara esensial bersifat tetap dan tidak berubah. Sebagai agama samawi yang terakhir dan sempurna, islam dan segenap doktrinnya sama sekali tidak mengalami perubahan dan penghapusan. Sementara itu, zaman selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman, tidak tetap dan permasalahan akan terus bertambah kompleks. Tetap dalam titik ini muncul relevansi islam dengan berbagai tuntutan dengan tantangan zaman?. Mungkinkah dua hal yang bertentangan akan bersanding dalam mencari sebuah solusi bersama?. Bagaimana mungkin islam yang bersifat tetap akan mampu membimbing zaman yang selalu tidak tetap dan terus akan berubah? Bagaikan sepotong baju yang dipakai terus-menerus mulai ia kecil sampai ia dewasa, sudah pasti tidaka akan cukup.

 

Urgensitas Kajian Keagamaan

Perubahan yang berkembang secara global telah mempengaruhi dimensi religiusitas, nampaknya telah menjadi kesadaran bersama. Namun sepenuhnya mengatakan, bahwa yang akan menjadi main stream dalam proses perubahan secara keseluruhan adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak benar secara mutlak, kecuali perlu disikapi dengan penuh ekstra hati-hati. Bagaimana pun, agama mempunyai kedudukan fundamental dan eksistensial dalam kehidupan manusia. Kecuali itu, disadari sekarang bahwa kemajuan manusia yang semata-mata bertitik tumpu pada signifikansi di bidang keilmuan, selamanya tidak akan memberikan pemuasan bagi kehidupan manusia.

Bagi masyarakat modern yang hidup di era global dan era keterbukaan dengan ciri rasionalitasnya tentu aspek moralitas agama dan spiritual sedikit tergeser. Karena manusia telah merasa mampu untuk berbuat atau tidak berbuat untuk dirinya sendiri. Sejumlah nilai yang semula dijunjung tinggi masyarakat kemudian diabaikan dan kurang diperhatikan. Dampaknya sangat terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti nilai-nilai yang mengajarkan penghormatan pada para pemimpin, ulama, tokoh masyarakat, cendikiawan, pendidik dan orang tua tidak lagi dianut dan diamalkan secara konsisten. Peran nilai agama mulai berada pada posisi marginal dan sangat mengkhawatirkan.

Selanjutnya, akibat tidak adanya sikap secara etis dan kritis dalam pengembangan budaya telah mendatangkan implikasi kemanusiaan yang secara negatif akan mempengaruhi masa depan umat manusia.[1] Setelah menyadari beberapa akses negatif perubahan, muncul kesadaran baru untuk kembali kepada nilai-nilai agama. Kesadaran semacam itu dapat dibaca pada tema-tema pembicaraan dewasa ini seperti perlunya respiritualisasi dan revivalitisasi peran agama. Kesemuanya merefleksikan adanya suatu keinginan untuk menampilkan kembali agama, tidak saja dalam bentuknya sebagai bagian dari sistem nilai seperti dalam pengertian budaya, tetapi kedudukan dalam sifatnya yang paradigmatis dalam kehidupan manusia.[2]

Dalam kedudukannya sebagai bagian dari sistem nilai, agama akan mengalami relatifitisasi sebagaimana nilai-nilai lainnya yang dihasilkan melalui refleksi filosofis manusia. Semestinya, agama secara epistemologis membingkai seluruh nilai-nilai lainnya. Dalam konteks perubahan, agama tidak cukup hanya ditempatkan dalam pengertian di atas. Karena itu, agenda pemikiran penting sekarang dalam rangka revitalisasi nilai-nilai agama, adalah merekontruksi peran agama. Dengan cara demikian, agama akan dapat memberikan bingkai etik dan moral dalam proses perubahan.[3]

Dalam studi sosiologis terdapat dua peran agama yang sangat signifikan dikembangkan. Pertama, peran sebagai directive system, yaitu agama ditempatkan sebagai referensi utama dalam proses perubahan. Dengan demikian, agama akan dapat berfungsi sebagai supreme morality yang memberikan landasan dan kekuatan elit-spiritual masyarakat ketika mereka berdialektika dalam proses perubahan. Dengan pemaknaan semacam ini, agama tidak lagi dipandang sebagai penghambat perubahan seperti dalam filsafat materialisme.[4] Berdasarkan upaya tersebut, agama menjadi daya dorong luar biasa bagi terciptanya perubahan ke arah coraknya yang konstruktif dan humanistik bagi masa depan umat manusia.

Kedua, peran sebagai defensive system, agama menjadi semacam kekuatan resistensial bagi masyarakat ketika berada dalam lingkaran persoalan kehidupan yang semakin kompleks di tengah derasnya arus perubahan. Dalam konteks demikian, masyarakat akan mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk mempertahankan diri dan tidak ada rasa kekhawatiran serta keraguan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Di sinilah sesungguhnya peran penting kecerdasan akal manusia dalam mengkontekstualisasikan ajaran agama. Suatu usaha yang didukung oleh infrastruktur pendidikan yang kondusif dalam rangka pemberdayaan agama tersebut. Secara makro, pendidikan agama mempunyai makna strategis sebagai institusi agama yang dapat menjalankan fungsi pokoknya mensosialisasikan dan mentransformasikan nilai-nilai keagamaan dalam konteks dialektika kehidupan ini. [5]

Aspirasi dalam pembentukan kajian keagamaan di perguruan tinggi secara umum didorong oleh setidaknya tiga tujuan: pertama, untuk melaksanakan pengkajian dan pengembangan ilmu-ilmu Islam pada tingkat yang lebih tinggi secara lebih sistematis dan terarah. Kedua, untuk melakukan pengembangan dan peningkatan dakwah Islam sehingga Islam dipahami dan dilaksanakan secara lebih baik oleh mahasiswa dan kaum muslimin pada umumnya. Ketiga, untuk melakukan reproduksi dan kaderisasi ulama dan fungsionaris keagamaan lainnya, baik pada birokrasi negara maupun lembaga-lembaga sosial, dakwah dan pendidikan Islam.

 

UNUSA Menjaga Komitmen Kualitas Akademik

Dalam dunia pendidikan, perguran tinggi sebagai jenjang terakhir dalam membentuk karakter manusia. Sehingga tanggungjawab besar berada dalam naungan lembaga pendidilkan tertingi di Indonesia tersebut. UNUSA diantaranya kampus yang menjadi public figure masa depan di Surabaya, Indonsia bahkan dunia dengan bersaing bersama kampus lainya. UNUSA terus berusaha dalam menjaga komitmen untuk mendidik mahasiswa dalam menghadapi tantangan global. Nantinya UNUSA mampu membentuk kader yang unggul dalam bidang iptek, interpreneur dan pemimpin dengan karakter kaidah Islam rahmatan lil alamin.

Perkembangan masyarakat Indonesia sudah memasuki masyarakat global atau juga disebut masyarakat informasi yang satu sama lainnya dihubungkan dengan berbagai jenis sistem komunikasi. Perkembangan ini merupakan kelanjutan dari masyarakat modern dengan ciri-cirinya yang bersifat rasional, berorientasi ke masa depan, terbuka, menghargai waktu, kreatif, mandiri dan inovatif.[6] Sebagai konsekuensinya, budaya baru global telah berkembang dan didominasi sebagian besar oleh ciri-ciri modernisasi, gaya hidup konsumerisme yang merupakan ciri-ciri budaya Barat. Dalam situasi yang demikian, intensitas hubungan meningkat secara lebih meluas ke berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, budaya, politik, ideologi, agama, bahasa, ilmu pengetahuan, lingkungan dan teknologi.

Akibat selanjutnya, nilai-nilai kemanusiaan yang berdimensi spiritual akan terdegradasi oleh proses teknologi, yang merupakan hasil rekayasa dan kemampuan rasio. Padahal kekayaan nilai-nilai dasar (fundamental values) secara normatif dipandang akan dapat memberikan kepastian hidup di masa yang akan datang. Bahkan tata nilai dapat dijadikan acuan sebagai posisi jatuh dan bangun peradaban. Artinya, di suatu masa manusia akan tegar bangun dan berdiri pada kehidupan yang bertata nilai, dan di lain waktu jatuh terkapar dalam keadaan meninggalkan tata nilai dan mengabaikan aspek spiritualitas.[7]

Dalam konteks tersebut, di bidang pendidikan Islam dibutuhkan sebuah pendidikan unggulan dalam menyikapi arus perkembangan zaman dalam tataran pemikiran atau teknologi. Menyikapi hal itu, perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan lanjutan dari jenjang pendidikan Islam-madrasah dan pesantren perlu mewujudkan cita-cita itu. Karena UNUSA merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi yang memiliki ciri khas keislaman yag berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, yang membedakannya dengan perguruan tinggi umum.

Menyadari nilai strategis tersebut, maka pendidikan tinggi agama perlu memberikan pengayaan nuansa-nuansa keagamaan. Suatu upaya pengayaan yang menyentuh aspek formal agama maupun dimensi etik, moral, dan spiritual agama yang terus berkembang. Dengan pengayaan demikian, pendidikan agama tidak hanya sebagai lembaga yang hanya dapat mempertahankan kemapanan dogmatika agama.

Dalam konteks tersebut UNUSA seyogianya dapat merespon perkembangan yang terjadi dan menjadikan lembaga panutan dan sumber lahirnya sumebr daya manusia yang menjunjung moral ke depan. UNUSA tidak hanya dituntut untuk dapat menyelenggarakan pendidikan bagi mahasiswa yang berciri khas keagamaan, lebih dari itu, UNUSA juga dituntut memainkan peran sebagai basis pembangunan moral bangsa di tengah masyarakat global. Ciri keislamannya tidak hanya menjadikan Islam sebagai obyek kajian ilmiah, melainkan lebih dari itu, diharapkan suasana kampus dan para civitas akademikanya juga mencerminkan kualitas akhlak dan perilaku Islami.

Sehingga UNUSA juga berupaya mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum serta kedudukannya yang semakin kuat dalam sistem pendidikan nasional, maka sekurang-kurangnya perguruan tinggi dapat memainkan peran sebagai berikut:[8]

Pertama, media sosialisasi nilai-nilai ajaran agama. Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bercirikan keagamaan, melalui sifat dan bentuk pendidikan yang dimilikinya, perguraun tinggi mempunyai peluang besar untuk berfungsi sebagai media sosialisasi nilai-nilai ajaran agama kepada masyarakat secara lebih efektif karena diberikan dengan sistem pembahasan yang mendalam dan pengkajian yang serius serta penelitian-penelitian mahasiswa di berbagai lembaga pendidikan dan daerah.

Kedua, maintenance of Islamic tradition (pemeliharaan tradisi keagamaan). Pemeliharaan tradisi keagamaan ini dilakukan di samping secara formal melalui pengajaran ilmu-ilmu agama seperti al-Qur’an. hadits, aqidah, filsafat, fiqh, ushul fiqh, politik Islam dan lain sebagainya, juga dilakukan secara informal melalui pembiasaan berorganisasi, aktif di berbagai kegiatan sosial masyarakat. Peran ini belakangan sedang mendapatkan tantangan dari perkembangan kehidupan yang semakin materialistik dan individualistik sebagai dampak dari perkembangan global. Quraisy Shihab mensinyalir, bahwa untuk mempertahankan nilai-nilai moral Islam adalah dengan memahami dan menghayati nilai-nilai dalam al-Qur’an secara komprehensif. Karena menurutnya perubahan dengan orientasi yang mengacu pada tatanan nilai islami hanya dapat dilakukan melalui penghayatan terhadap nilai-nilai al-Qur’an.[9]

Ketiga, membentuk akhlak dan kepribadian. Kepribadian diidentifikasikan dengan perwujudan lahiriah, watak atau peranan yang diperankan dalam sebuah kehidupan; sifat-sifat khusus yang dimiliki seseorang. Pemaknaan kepribadian yang ilmiah adalah integrasi dari seluruh sifat seseorang, baik sifat yang dipelajari ataupun sifat yang diwarisi yang menyebabkan kesan yang khas dan unik pada orang lain.

Keempat, benteng moralitas bangsa. Perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi basis moralitas dan benteng penting bagi bangsa dalam menghadapi berbagai krisis yang dihadapi bangsa. Dengan pemahaman religius manusia dapat menyadari secara signifikan terhadap masalah yang dihadapi. Pendidikan moral dapat dilakukan dengan memantapkan pelaksanaan pendidikan, karena nilai-nilai dan ajaran agama pada akhirnya ditujukan untuk membentuk moral yang baik.

Kelima, pendidikan agama yang dapat menghasilkan perbaikan moral harus dirubah dari pengajaran agama kepada pendidikan agama. Pengajaran agama dapat berarti transfer of religion knowledge, mengalihkan pengetahuan agama atau mengisi mahasiswa dengan pengetahuan tentang agama, sedang pendidikan agama dapat berarti membina dan mewujudkan perilaku mahasiswa sesuai dengan tuntutan agama serta membiasakan mahasiswa berbuat baik dan santun dalam berbagai perilaku.

Keenam, pendidikan moral dapat dilakukan dengan pendekatan yang integrated, yaitu dengan melibatkan seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Pendidikan moral bukan hanya terdapat dalam pendidikan agama saja, melainkan juga terdapat pada pelajaran logika, bahasa, evaluasi, biologi, ilmu eksak dan sebagainya.

Ketujuh, sejalan dengan cara yang keenam di atas, pendidikan moral harus melibatkan seluruh dosen. Pendidikan moral bukan hanya menjadi tanggung jawab dosen agama seperti yang selama ini ditekankan, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh dosen dan komponen pendidikan tinggi Islam.

Kedelapan, pendidikan moral harus didukung oleh oleh kemauan, kerja sama yang kompak dan usaha-usaha yang sungguh-sungguh dari keluarga, sekolah dan masyarakat (stakeholders). Perguruan tinggi juga harus berupaya menciptakan lingkungan yang bernuansa religius, seperti membiasakan shalat berjamaah, menegakkan disiplin, ketertiban, kejujuran dan tolong menolong, sehingga nilai-nilai agama menjadi kebiasaan, tradisi atau budaya seluruh civitas akademika.

Kesembilan, pendidikan moral harus menggunakan seluruh kesempatan, berbagai sarana termasuk teknologi modern. Kesempatan berekspresi, pameran, karyawisata dan lain sebagainya harus digunakan sebagai peluang untuk membina moral.

Melihat beberapa fungsi inilah sekiranya UNUSA yang berlambang Nahdlatul Ulama akan terus mengadakan peningkatan sistem pembelajaran yang nantinya mampu mengangkat derajat akademik mahasiswa mapun para dosen. Diantaranya dengan kajian keagamaan yang mampu menyeimbangkan antara nilai keagamaan dan nilai pengetahuan umum. Selain mampu menjaga tradisi para ulama dan kiyai diharapkan  mampu menampilan pemikiran-pemikiran baru tentang konsep islam masa modern yang sesuai dengan perkembangan zaman.

oleh : M. Afwan Romdloni, Tim Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam (PPMPI) UNUSA

[1] Tobroni dan Syamsul Arifin, Islam Pluralisme Budaya dan Politik, Refleksi Teologi untuk Aksi dalam Keberagamaan dan Pendidikan, (Yogyakarta: SI Press,1994), 121.

[2] Ibid.,

[3] Ibid.,

[4] Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif (Bandung : Mizan,1999). IV

[5] Tobroni dan Syamsul Arifin, Islam Pluralisme Budaya.., 122.

[6]  Deliar Noer, Pembangunan di Indonesia (Jakarta: Mutiara,1987), 24.

[7] Abdurrahmansyah, Wacana Pendidikan Islam, Khazanah Filosofis dan Implementasi Kurikulum, Metodologi dan Tantangan Pendidikan Moralitas (Yogyakarta: Global Pustaka Utama,2004), 177.

[8] Said Aqil Husien al-Munawwar, Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2003), 252.

[9] Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1995), 245.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *