PPMPI Adakan Kajian Deradikalisasi di bulan Ramadhan

Sudah memasuki tahap akhir dalam tema kajian utama Religious Exstremisme dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi yang diselenggrakan Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam (PPMPI) UNUSA. Pada kesempatan ini PPMPI membahas tentang deradikalisasi dalam tubuh ekstrimisme, yang sebelumnya sebatas kajian tentang memehami dan mengenali ekstrimisme.

Kajian rutin yang diselenggarakan pada hari Jum’a, 08 Juni 2018 di kafe Fastron tersebut dihadiri oleh 70 an peserta baik dari jajaran dosen dan mahasisswa. Pada kesempatan kali ini PPMPI mendatangkan Bapak Ali Mashuri, M.Sc. beliau merupakan pakar Psikologi dari Universitas Brawijaya Malang. Dan acara ini dibuka langsung oleh Bapak Rektor Prof. Ahcmad Jazidie, M.Eng. Beliau menyampaikan, bahwa UNUSA ini harus bisa menjadi pusat Studi dan Pemikiran Islam masa modern, akan tetapi dalam beberapa moment kita harus berhati-hati dengan kajian, pernyataan, dan penelitian yang kita sampaikan. Karena memiliki hubungan yang sangat rentan dengan keadaaan social yang ada sekarang ini, dan merugikan diri sendiri.

Sebelum jauh menjelaskan tema deradikalisasi, dalam paparan yang disampaikan oleh Ali Mashuri, dalam tataran undang-undang sekarang ini masih kesulitan dalam membedakan antara opini radikalisme dan aksi radikalisme. Sehingga kaum akademisi harus hati-hati dalam menyampaikan pendapat, meskipun kita bebas menyampaikan pendapat. Selain itu, juga menyampaikan bahwa gerakan radikalisme itu secara umum memang merupakan sebuah jaringan kelompok, namun adakalnya bersifat individual.

Lebih detail beliau menjelaskan bagimana seharusnya deradikalisasi itu harus dilakukan oleh para aparatur negara yang ditegaskan, diantaranya kapabilatas seorang petugas sipir di lapas kasus radikalisme. Jangan sampai ketidak mampuan sipir tersebut, malah ikut-ikutan terhadap paham mereka.

Dalam kesempatan tanya jawab, seorang mahasiswa FK dengan Nama Nizam bertanya terkait tidak sedikit kaum cendekiawan atau yang ber-IQ lebih malah terjerumus dalam jurang radikalisme ini. Pertanyaaan ini ditanggapi oleh bu Wardah Alkatiri selaku ketua PPMPI, karena anak yang memeiliki IQ tinggi lebih kritis dan rasa ingin tahunya sangat besar, dan beliau mencontohkan para mahasiswa eksakta malah lebih mudah terpengaruh, sebab mereka terbiasa dengan hal yang sudah jelas dan pasti. Jadi mereka tidak menerima pendapat yang masih abu-abu ataupun masih memunculkan pertanyaan baru. Karena mereka terbiasa dengan rumus-rumus yang akan mengahsilkan sebuah jawaban yag pasti pula. Apabila dihubungkan dengan agama Islam sudah jelas antara hitam dan puti dan mengarah pada surga dan neraka.

Dari kajian dengan tema Deradikalisasi Teroris: Sebuah Tinjauan Psikologi Sosial narasumber memberikan sebuah statment bahwa semua upaya baik preventif maupun deradikalisai itu harus dilakukan bersama-sama dari segala elemen masyarakat, baik dari masyarakat maupun pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *