Strategi Minimalisasi Ekstrimisme Bergama

Merespon gerakan ‘ekstimisme kekerasan’ (yaitu gerakan yang menjustifikasi penggunaan kekerasan untuk mecapai tujuan moral-politik mereka), bukan lagi menggunakan cara ‘counter-terrorism’ sebagaimana dicanangkan dalam proyek ‘global war on terror’, melainkan melalui program ‘counter-violent extremism’ (CVE) yang terlebih dahulu mengenali, dan kemudian mengarahkan solusi pada penyebab struktural persoalan, yaitu persoalan marjinalisasi sosial-eknomi-politik, diskriminasi berdasarkan etnis dan agama, pelanggaran HAM, dan tata kelola pemerintahan yang buruk (kegagalan pemerintahan). Lima langkah yang disulkan adalah:

1. Strategi komunikasi dan pelibatan sosial

  • Metode yang digunakan melalui pembentukan atau aktivasi forum komunikasi dan aksi lintas agama (FKUB dan sejenisnya)
  • Sebaiknya tidak berorientasi seremonial; namun lebih pada pola komunikasi dan interaksi yang bersifat reguler dan informal
  • Selain kegiatan yang berbentuk komunikasi, kegiatan yang berwujud aksi dan kegiatan bersama sering lebih efektif: gotong royong, pendidikan, dsb.

2. Strategi pelibatan dan partisipasi politik

  • Metode yang digunakan melalui pelibatan dan undangan partisipasi dalam kegiatan yang menyangkut “urusan publik” maupun kegiatan “politik formal”
  • Sebagian kelompok yang berpendirian “anti-demokrasi” akan menolak kegiatan yang ‘berbau demokrasi’ misalnya gunakan terminologi ‘musyawarah’ ketimbang demokrasi’ dsb.
  • Sebaiknya tidak berorientasi pada aspek seremonial; namun lebih pada pelibatan dan partisipasi dalam “isu dan kepentingan bersama”

3. Strategi pemberdayaan & penguatan ekonomi

  • Metode yang digunakan melalui pemberdayaan ekonomi kelompok-kelompok rentan atau aktivasi kegiatan ekonomi lintas-kelompok
  • Dalam konteks pembangunan pasca-konflik, program ekonomi terbukti menjadi alat yg efektif karena “uang tidak punya agama”: contoh “Pasar Bakubae” di Ambon Maluku
  • Kelompok yang secara ekonomi rentan dan lemah juga lebih berpotensi untuk terlibat dalam aksi dan gerakan radikal

4. Strategi perlindungan hukum dan pemberdayaan HAM

  • Metode yang digunakan melalui pemberian layanan perlindungan hukum kepada kelompok-kelompok rentan serta pemberdayaan pengetahuan hukum & HAM
  • Metode ini menarik dan cukup sulit karena harus dilakukan dalam ‘paradoks’: kadang kelompok sasaran menolak ‘hukum sekuler’ yang dijadikan alat untuk melindungi mereka dalam proses hukum yang harus dilalui
  • Jika diyakinkan bahwa hukum bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk ‘melindungi diri’, secara perlahan bisa mengurangi tendensi penggunaan kekerasan

5. Strategi kontra-ideologi dan narasi

  • Metode yang digunakan bisa melalui ‘konfrontasi’ maupun ‘persuasi’; metode konfrontasi kadang diperlukan dalam forum diskusi dan debat publik sedang metode persuasi dilakukan melalui forum informal maupun publikasi.
  • Metode ‘konfrontasi’ atau kontra-ideologi merupakan bagian dari “kontestasi opini dan pemikiran” untuk melawan tafsir-radikal terhadap agama
  • Metode ‘persuasi’ atau kontra-narasi merupakan bagian dari “kontestasi narasi” yang menyertai “kontestasi ideologi”, terutama melalui media dan saluran populer dalam komunikasi publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *