Keynote Speech  “Mengkaji ke-Ekstrim-an Beragama (religious extremism) dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi”

 Ir. Wardah Alkatiri, M.A. Ph.D.

Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)

 

Sebagaimana telah disampaikan oleh Bapak Prof. Mohammad Nuh dan Bapak Prof. Achmad Jazidie,  lembaga kajian PPMPI khususnya, dan universitas kami, UNUSA, secara umum, berkomitmen tinggi pada kemanusiaan dan ilmu pengetahuan, dengan diterangi oleh cahaya Islam berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah anNahdliyah.

Dengan demikian, maka lembaga kami menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ‘kendaraan’ atau ‘alat bantu’ untuk melayani manusia – bukan sebaliknya manusia yang melayani sains dan teknologi.

Oleh karena itu, perlu saya garis bawahi point penting berikut ini: Berbeda dengan filosofi dasar ilmu pengetahuan yang lahir dari rahim worldview Barat modern dan sekuler – di mana manusia tidak lagi dilihat sebagai ‘makhluk’, atau, ‘ciptaan Tuhan’ yang memilki dimensi spiritual, melainkan, sebagai ‘insan promethean’ yang memberontak melawan Tuhan; atau sebagai hasil proses evolusi semata sehingga tidak jauh berbeda dari tumbuhan dan hewan —  sebagaimana di Barat dikenal dengan pertentangan antara CREATIONISTS dan EVOLUTIONIST yang akhirnya dimenangkan oleh kubu Evolutionist sebagai mana data berikut:

Kajian kami di PPMPI berangkat dari filosofi Islam yang melihat manusia sebagai makhluk atau ciptaan Tuhan, yang memiliki kebutuhan fisik, mental (atau psikologis), sosial, dan juga spiritual -Manusia sebagai ‘spiritual being’: yang memiliki akan Kebutuhan, Fisik (Biologis), Mental (Psikologis), Sosial, Spiritual sejalan dengan worldview Islam tentang manusia.

Dalam kerangka berfikir itulah kami meletakkan persoalan manusia – baik secara individual maupun sosial (berkelompok). Dan dalam kerangka itu pulalah kami meletakkan persoalan hubungan antara manusia dengan agama sebagaimana ditunjukkan dalam chart berikut:

 

 

 

 

 

 

Dengan demikian, baik secara individual maupun sosial, agama (bisa) mempunyai fungsi sebagai:

  1. Keyakinan/spiritualitas
  2. Identitas sosial
  3. Institusi sosial
  4. Sistem Nilai (acuan moral dan etika)
  5. Worldview
  6. Ideologi

Yang tidak boleh kita lupakan, satu pesan utama yang membedakan AGAMA dengan sistem berfikir yang lain, apakah itu ideologi, sistem nilai, atau filsafat sekuler (profan).

Agama mengatakan bahwa: “Ada sesuatu di luar kemampuan panca indera (dan rasionalitas) kita untuk membuktikannya”

Menurut kami ini penting kita tekankan lagi karena tampaknya semakin sering disampaikan oleh tokoh agama (Islam, khususnya) dalam konteks meningkatnya kekerasan atas nama agama, bahwa “Islam tidak lain adalah akhlak yang baik”. Padahal, akhlak atau budi pekerti bisa digantikan oleh sistem nilai sekuler yang lain. Ada orang yang tidak mengimani Tuhan, tidak mengimani hal-hal ghaib tapi berbudi pekerti baik – hal ini yang sering membingungkan anak-anak muda: “buat apa belajar agama tapi jadi teroris, padahal yang tidak beragama baik hati”. Oleh karena itu, untuk tidak mengorbankan agama demi tujuan lain (meski tujuan itu baik), pesan utama agama di atas perlu ditegaskan kembali. Dalam Islam, akhlak adalah salah satu bab di samping bab-bab yang lain.

Kita berada di suatu zaman dimana terjadi perubahan begitu cepat yang diakibatkan oleh kemajuan sains dan teknologi. Setelah sekian lama mengalami proses modernisasi (yang ternyata dalam perjalanannya mengikis keimanan), dan juga setelah sekian lama mengalami proses sekulerisasi yang membatasi ruang gerak agama agar berada di ruang pribadi saja, kini di luar dugaan para social scientists, kita memasuki suatu zaman yang ditandai dengan kembalinya agama ke ruang publik – yang sering disebut sebagai gelombang de-secularization, dan juga kembalinya spiritualitas dalam beragam bentuknya, termasuk spiritualitas tanpa agama (yang dikenal dengan “SBR” – spiritual but not religious).

Dalam keadaan masyarakat dunia yang demikian itu, fungsi agama bagi pengatutnya sebagai sumber spiritualitas (pemberi harapan, optimisme dan ketentraman batin); serta fungsi agama sebagai sistem sosial sebagaimana disebutkan tadi (yaitu identity signifier, institution, value system) kini mendapatkan tempat dan perannya  kembali.

Ditambah dengan berbagai persoalan sosial yang melanda masyarakat dunia akibat globalisasi dan urbanisasi. Persoalan ‘ke-ekstrim-an beragama’, menjadi semakin penting untuk dikaji dan dimengerti  oleh semua pihak yang mendambakan perdamaian dimana ada masyarakat beragama di sana.

Setelah sekian lama dunia intelektual mengadopsi misi secularism sebagai paradigma dominan dalam menganalisa persoalan agama dan masyarakat, kini dengan masuknya kita pada zaman post-secularism atau post-modernism, maka sudah selayaknyalah umat beragama diberi ruang untuk menjelaskan fenomena keberagamaan mereka dari sudut pandang mereka sendiri (Slide-18). Oleh karena itu kami memilih kajian pertama “Ke-Ekstrim-an Beragama (religious extremism)” dengan melakukan kajian atas persoalan tsb pada manusianya (pelakunya) sendiri, baik secara individu (sisi psikologis) maupun kelompok (sisi sosiologis).

ada dua buku yang menurut kami layak disimak dalam menjalankan kajian ini:

Buku 1: Bad Faith. The Danger of Religious Extremism oleh Neil J. Kressel

Berbeda dengan rata2 scholar  Barat yang sejak kejadian 9/11 menulis dengan nada histeris soal religious extremism, dan berfokus pada Islam sebagai ancaman di hadapan peradaban Barat, penulis buku ini mengkaji keadaan  psikologi pelakunya dan meletakkan semua agama pada posisi sejajar soal religious extremism.

Dengan buku ini penulis memberi informasi penting dan menarik untuk kita bisa lebih memahami persoalan ‘ke-ekstriman beragama’ yang biasanya tertutupi oleh penulis2 emosional yang mempunyai agenda2 tertentu. Meski buku ini  belum memberi solusi, tapi penulis membuka pada banyak sisi psikologis persoalan (Slide-20, khususnya ‘cognitive dissonance dan kecemasan’) yang akan menambah pemahaman kita atas masalah tsb. Kajian PPMPI mencoba mengeksplorasi lebih banyak lagi.

Buku 2: Keywords. A Vocabulary of Culture and Society oleh Raymond Williams

Dalam buku ini penulis menunjukkan bahwa makna kata bisa berubah sepanjang sejarah mengikuti perubahan situasi politik, misalnya. Dari sini dapat kita simak bawa kata-kata yang akhir2 ini dikonotasikan pada satu agama tertentu bisa saja berasal dari sebuah proses penggiringan opini dengan tujuan tertentu. Oleh karena itu, atas nama ilmu pengetahuan dan dalam rangka mencari ‘kebenaran’, kajian yang bersifat akademis hendaknya waspada terhadap persoalan ini agar tidak terjebak ke dalam ‘terminological chaos’ yang bisa menyesatkan.

Mengingat tujuan semua ilmu adalah ‘understanding’ dan ‘prediction’ (memahami dan memperkirakan). maka dari forum ini kami berharap semoga bisa member pemahaman yang lebih baik atas persoalan ‘ke-ekstriman beragama’ dan kemudian memberi titik terang atas sikap bagaimanakah yang diperlukan untuk mengatasi ekses negatifnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *