Membedah Bias Kognisi Sosial dalam Kelompok Radikal

Narasumber-10: Dr. Rakhman Ardi, M.Psych.
Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Dr. Rakhman Ardi adalah Kepala Departemen Psikologi Kepribadian dan Sosial di Universitas Airlangga, Surabaya. Gelar Master Beliau dapatkan dari Ural Federal University di Rusia, dan gelar Doktor dari University of Warsaw, Polandia. Dalam presentasi di PPMPI yang berjudul “Membedah Bias Kognisi Sosial dalam Kelompok Radikal” Dr. Ardi memberi perhatian khusus pada persoalan Bias dan fenomena Cyberpsychology (psikologi dunia maya), yaitu fenomena psikologis yang diakibatkan oleh teknologi informasi.

Sebagaimana diketahui, bias adalah penyajian informasi yang dipenuhi prasangka akibat kecenderungan atau kesukaan/ketidaksukaan seseorang pada suatu – baik itu kelompok, orang, atau ide tertentu. Bias bisa dihasilkan dari beragam pengalaman hidup seseorang, termasuk norma-noma di dalam kultur dimana orang itu berasal (disebut cultural bias). Disamping itu, bias dihasilkan juga oleh keterbatasan memori manusia  sehingga orang hanya menangkap dan menyimpan sebagian saja informasi tentang obyek-obyek yang di-indra nya. Dengan demikian dapatlah dikatakan pada dasarnya manusia adalah makhluk bias, dan oleh karenanya hendaknya kita selalu menyadari kemungkinan adanya bias yang bisa mempengaruhi/ mengganggu kejernihan pikiran kita sendiri.

Presentasi Dr. Ardi mempersoalkan tentang bias dalam kelompok (bias kognisi sosial) berfaham radikal, yang diperkuat oleh Polarisasi Kelompok dan Groupthink, dengan Social Media (medsos) dan internet sebagai katalisatornya. Di hadapan medsos dan internet, setiap kita berada seakan-akan di tengah samudera informasi. Algoritma filter bubble yang mendasari kerja mesin pencari internet dan medsos tsb menggiring kita pada berita-berita yang memang kita sukai atau minati. Akibatnya, antara lain, timbul false consensus effect (merasa dirinya dibenarkan), echo chamber effect (mendengar cuma pendapat dirinya sendiri sehingga tidak memahami pandangan yang berbeda, dan karenanya tidak bisa terbentuk ‘dialog’), self-serving bias (merasa dirinya yang paling penting), dan self confirmation bias (kecenderungan menyukai berita hanya berdasarkan judulnya saja).

Tentang self confirmation bias ini, Dr. Ardi melakukan sebuah eksperimen yang menunjukkan adanya kecenderungan blind sharing pada kedua kelompok yang berseberangan. Yaitu, orang cenderung mudah mem-forward berita hanya dengan melihat judulnya saja tanpa membaca isinya. Bahkan dead links sekalipun (link-link yang tidak bisa dibuka) langsung diforward tanpa mengeceknya terlebih dulu.

Tentang polarisasi kelompok, Dr. Ardi menceritakan hasil2 eksperimen yang telah dilakukan ketika orang-orang ‘serupa’ dikumpulkan, lalu mereka akan berfikir dengan mengedepankan solidaritas kelompok dan kemudian seiring dengan itu, groupthink nya menguat dikarenakan para anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok. Akibatnya, kemampuan berfikir kritis mereka bisa menjadi tidak bekerja. Sebuah eksperimen di Prancis mengumpulkan orang-orang yang tidak suka Amerika dan suka Charles de Gaulle (symbol patriotisme dan kemandirian Perancis). Menariknya, hasil eksperimen menunjukkan, orang-orang yang kadar ke-tidak-suka-an dan ke-suka-an nya sebelum dikumpulkan berada pada score 5-6, setelah dikumpulkan dan berdiskusi bersama, score tersebut meningkat menjadi 9.

Dengan demikian, Dr. Ardi menyimpulkan, radikalisme tumbuh subur ketika poliarisasi kelompok dan group think menonjol. Bias kelompok yang dibiarkan akan menjadi problem dalam integrase sosial. Oleh karenanya, untuk meminimalisir bias kelompok diperlukan langkah menyediakan validasi informasi secara konsisten dan atraktif, serta inisiasi dialog pada berbagai macam kelompok sosial.

Ekstrimitas Beragama, Perspektif Sosiologi

Narasumber-9: Prof. Masdar Hilmy, S.Ag. M.A., Ph.D.
Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Prof. Masdar adalah Wakil Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Penelitian yang dilakukan untuk meraih gelar professor mengangkat tema “Mengurai Jalan Buntu Teoretik dalam Ilmu-ilmu Sosial: Islamisme Radikal dalam Perspektif Teori “Modus Produksi”. Dalam presentasinya di kajian PPMPI yang berjudul “Ekstrimitas Beragama. Perspektif Sosiologi”, beliau memulai dengan mendefinisi ekstrimisme beragama sebagai “sebuah ideologi dan gerakan yang menunjukkan disonansi sosiologis akibat kegagalan-kegagalan melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitar (pihak-pihak eksternal)”.

Dalam presentasi tersebut Prof. Masdar memaparkan secara garis besar tinjauan sosiologis atas ektrimisme Islam di Indonesia. Sebab-sebab sosiologis secara umum adalah:

  1. Dislokasi social, Yang dimaksud dengan Dislokasi Sosial adalah: – Keterjarakan sosiologis akibat segregasi social – Kebuntuan komunikasi social – Perbedaan kelas social akibat latarbelakang pendidikan – Rendahnya modalitas social dalam proses integrasi (bonding vs. bridging) – Ledakan demografis yang tidak berimbang antara kelompok Muslim dan nonMuslim
  2. Deprivasi ekonomi, Sedangkan Deprivasi ekonomi meliputi: – Kemiskinan absolut – Pengangguran – Akses terhadap sumber-sumber ekonomi yang terbatas/tertutup – Tingkat rasio Gini
  3. Represi politik, Yang dimaksud Represi Politik adalah: – Tekanan rezim berkuasa terhadap umat Islam – Pembatasan terhadap artikulasi politik umat Islam – Perbedaan konseptual tentang bentuk negara yang absah
  4. Ketidak-adilan global, Adapun yang termasuk Ketidak-adilan Global menurut Prof. Masdar meliputi: – Dominasi Barat (US dll) – Invasi Israel dan negara2 sekuler ke dunia Islam – Islamofobia dan diskriminasi – Kebijakan politik PBB
  5. Inferiority complex, Yang dimaksud Prof. Hilmy dengan Inferiority Complex adalah: – Ketertinggalan Islam di berbagai bidang (ekonomi, politik, militer, teknologi, dll) – Kebuntuan umat Islam menemukan jalan keluar dari segara bentuk keterpurukan

Adapun solusinya menurut Prof Masdar adalah: 1. Deradikalisasi 2. Mengembalikan keseimbangan sosiologis 3. Menekan jumlah kemiskinan, pengangguran, rasio Gini 4. Kebijakan social-politik yang adil 5. Meningkatkan kesejahteraan umat Islam

Prof. Masdar juga menyadari bahwa program deradikalisasi pun mengandung banyak kelemahan, termasuk adanya informasi bahwa Densus-88 merupakan program yang didanai oleh pemerintah Australia (angka 88 adalah jumlah korban warga Australia yang menjadi korban Bali bombing tahun 2002). Menjawab pertanyaan wartawan tentang larangan bercadar di UINSA, beliau mengatakan itu merupakan kebijakan institusi.

Ekstrimisme Beragama Dalam Social Intuitionist Model

Narasumber-8: Alfindra Primaldhi, B.A., S.Psi., M.Si.
Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Bapak Alfindra Primaldhi adalah mahasiswa S3 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yang sedang menyelesaikan disertasi doktoral nya dengan riset tentang peran intuisi dalam moral dalam pemilihan presiden. Pada penelitian doctoral tersebut beliau menggunakan “Social intuitionist model‟ – sebuah pendekatan yang memberi perspektif baru atas tindakan “memilih‟ sebagai “perilaku moral‟ pemilihnya. Konsep “social intuitionist model‟ (SIM) diajukan pada tahun 2001 oleh Jonathan Haidt. Dalam presentasinya di kajian PPMPI yang berjudul “Ekstrimisme Beragama Dalam Social Intuitionist Model (SIM)”, beliau memaparkan bagaimana teori tsb bisa menjelaskan bagiamana orang bisa memiliki sikap “ekstrim‟, yang kemudian mewujud menjadi tindakan kekerasan yang dilakukannya karena motivasi agama. Presentasi dimulai dengan menampilkan hasil survey Wahid institute yang menunjukkan 11 juta orang Indonesia terindikasi bersedia bertindak radikal (CNN, 14 Agustus 2017), dan sepertiga responden siswa yang tergabung dalam kegiatan Rohani Islam (Rohis) setuju dengan jihad memakai kekerasan. Jika survey itu benar adanya, pertanyaannya mengapa demikian?

Menurut Bpk Primaldhi yang merupakan seorang tenaga ahli di Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, pimpinan Dr. Bagus Takwin, M.Hum, dalam sudut pandang psikologi ada beberapa pendekatan yang dipakai untuk menjelaskan penyebab utama sikap ekstrim dengan kekerasan (termasuk perilaku terorisme). Dalam presentasi ini beliau hanya menyinggung beberapa pendekatan awal dengan tujuan memberikan gambaran umum dari sudut pandang psikologi, kemudian mengajukan kemungkinan penjelasan dengan menggunakan pendekatan psikologi moral. Yang pertama diajukan adalah penjelasan dari sudut pandang psikologi klinis, yaitu orang-orang dengan gangguan psikopatologi. Kemudian, penjelasan dari sudut pandang psikologi sosial, yang mengajukan kecemasan dari ketidakpastian sebagai motivasi manusia dalam bertindak.

Psychopathology. Psikopatologi adalah studi tentang penyakit mental, tekanan mental, dan abnormal/ perilaku maladaptif. Di tahun 1970-1980 an, perilaku terorisme dipandang berasal dari abnormalitas kepribadian seseorang. Ketika itu fokus perhatian pada terorisme belum tertuju pada kelompok Islam seperti di era ini, melainkan pada kelompok “Kiri‟ (komunis) semacam Red Army Faction (RAF) dan Red Brigades yang melakukan perlawanan terhadap kelompok “Kanan‟ (kapitalis) di Eropa, serta kelompok IRA yang berupaya memisahkan diri dari Inggris. Dalam pendekatan ini, fokus dari penjelasan terletak pada symptom yang ada pada diri individu, yaitu melihat karakteristik-karakteristik individual dari orang yang bergabung dalam kelompok ekstrim, dan membandingkannya dengan orang yang tidak bergabung. Pendekatan yang dipakai ketika itu menduga watak keji, haus kekuasaan, dan kurang rasa welasasih sebagai problem kepribadian yang menjadi penyebab utama perilaku terorisme. Namun, review dari penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa seorang ekstrimis bukan seseorang yang abnormal, atau memiliki gangguan jiwa. Walaupun tidak dapat dipungkiri ada faktor-faktor kepribadian seperti; authoritarianism (watak otoriter), narsisisme (watak narsis), kolektivisme (watak membela kelompoknya sendiri secara membabi-buta), dan sensation seeking (gemar mencari sensasi) yang dapat meningkatkan kecendrungan orang untuk menjadi ekstrim, dan bergabung ke kelompok ekstrim, aspek kepribadian ini lebih sesuai sebagai faktor yang turut berkontribusi, namun bukan menjadi faktor utama untuk seseorang menjadi ekstrim (Kruglanski & Fishman, 2006).

Psikologi Sosial Dalam pendekatan psikologi sosial, individu dilihat dalam konteks sosialnya. Salah satu penjelasan yang ditawarkan dari sudut pandang psikologi sosial adalah upaya mengurangi rasa cemas sebagai motivator dari perilaku manusia.

Salah satu sumber kecemasan utama manusia, adalah kepastian akan kematian (mortality salience), sebagaimana dijelaskan dalam Terror Management Theory (TMT) dimana kematian dipandang sebagai “terror‟ yang menjadi motivator utama semua perilaku dan kognisi (pikiran) manusia, termasuk perilaku dan kognisi “cinta‟. Ketika seseorang diingatkan akan kepastian kematian, hal ini akan menimbulkan rasa cemas, dan ia akan berupaya untuk mengurangi kecemasannya. Dalam upaya mengatasi kecemasan akan kematian inilah seseorang bisa membentuk pandangan religio-centrism (fanatisme beragama) dan ethno-centrism (fanatisme ke-suku-an).

Dalam sudut pandang yang lain, tidak hanya kesadaran akan kematian saja yang menjadi sumber kecemasan. Berbagai macam situasi dan kondisi yang menimbulkan ketidakpastian juga dapat menjadi sumber kecemasan (apakah itu masa depan, kemungkinan jatuh miskin, kemungkinan jatuh sakit). Dalam uncertainty-identity theory, Hogg (2000) menjelaskan bahwa suasana ketidakpastian menimbulkan kecemasan, sehingga orang akan berupaya untuk menguranginya. Dari sudut pandangan TMT dan uncertainty-identity theory, kecemasan melandasi perilaku manusia. Salah satu upaya mengurangi kecemasan itu adalah dengan bergabung ke suatu kelompok (menemukan orang-orang yang serupa dengan dirinya) dan mengadopsi identitas sosial yang baru . Namun, mengapa dari sekian banyak kelompok yang ada, seseorang memilih untuk bergabung dalam kelompok ekstrim? Daya tarik utama dari suatu kelompok ekstrim adalah adanya suatu standar pasti yang ajeg dan mutlak terhadap apa yang benar dan salah, di mana sikap, nilai, dan perilaku terjalin erat bersama menjadi suatu sistem kepercayaan ideologis (Thompson, 1990). Kelompok ekstrim dengan ideologi agama memiliki daya tarik yang kuat karena memberikan panduan yang tidak hanya mengatasi ketidakpastian sehari-hari tapi juga “ketidakpastian eksistensial‟ (Hogg, & Adelman, 2010).

Dalam kelompok baru itu selalu ada seorang “prototype‟ yaitu “ideal person‟ yang menjadi pemimpin dan model yang bisa mengurangi kecemasan akan ketidak-pastian. Dengan demikian “prototype‟ biasanya seorang yang paling “jelas/pasti‟ – dan bisa jadi paling “ekstrim‟. Atas dasar itulah, menurut Bpk Primaldhi, sisi paling menarik dari semua doktrin ekstrim adalah janji-janji mereka untuk memberi kepastian, termasuk memberi jawaban yang “paling benar‟. Di dalam makalahnya tentang ekstrimisme beragama, Bpk Primaldhi menggabungkan kedua teori terakhir dengan pendekatan Teori Moral di bawah ini.

Psikologi Moral. Yang menarik dari perspektif ini adalah “teori moral‟ dipakai untuk menjelaskan tindakan kekerasan (violence) yang notabene “tidak bermoral‟.

[[Berikut adalah tambahan catatan dari saya untuk memperjelas argumen Bpk Primaldhi yang menggunakan pendekatan Social Intuitionist Model (SIM) dalam presentasinya tentang ekstrimisme beragama:]]

Terdapat dua aliran besar di dalam filsafat manusia berkaitan dengan moralitas. Aliran pertama sering dikenal dengan konsep ‘Tabula Rasa’, yaitu pandangan epistemologi bahwa setiap orang lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain ‘kosong’. Seluruh sumber pengetahuan diperolehnya sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya. Aliran kedua menganggap manusia sebagai ‘buku’ yang sudah ‘berisi’. Dalam epistemology ini moralitas dipandang bersifat innate (bawaan lahir manusia, bukan dipelajari) dan manusia hanya memerlukan latihan untuk itu. Semakin banyak dilatih semakin bermoral lah seseorang. Dengan demikian, semua orang pasti bermoral. Yang bisa berbeda adalah kepekaan moral satu orang dengan yang lain. Demikian juga tiap kultur bisa melahirkan manifestasi moral yang berbeda satu dengan yang lain. Epistemology inilah yang mendasari teori Social Intuitionist Model. Perlu digaris-bawahi, aliran kedua ini kompatibel dengan
epistemology nya Perennial Philosophy, termasuk juga epistemology Tasawwuf, dimana manusia dipandang terlahir dengan pengetahuan tentang Tuhan dan dengan fitrah yang baik, seperti halnya software yang sudah di-install kan ke dalam jiwanya. Dia tumbuh dalam keadaan ‘lupa’ sehingga yang diperlukannya adalah ‘mengingatkan kembali’. Cara mengingatkan jiwa manusia dalam Tasawwuf dilakukan melalui dzikir (dalam bahasa Arab arti kata dzikir adalah ‘mengingat’).

Kembali ke Social Intuitionist Model, menurut saya yang paling menantang dari pendekatan teori moral untuk menjelaskan tindakan terorisme adalah konsekuensi logis selanjutnya sebagai berikut. Bpk Primaldhi menekankan, bahwa berdasarkan epistemology di atas, dapatlah dikatakan bahwa para ekstrimis itupun memperjuangkan moral (kebaikan) juga, karena selalu ada pertimbangan baik bagi seseorang dalam bertindak, bahkan ketika dia berbohong (atau membunuh) sekalipun. Di sini beliau memperkenalkan Teori Moral, dimana ada 5 prinsip moral yang mendasari semua tindakan manusia, yaitu:

  1. Care – welas asih. Prinisp moral ini yang paling mudah terlihat
  2. Keadilan – inipun mudah dilihat
  3. Loyalitas – contoh: slogan “NKRI harga mati” dan yel yel club bola yang menimbulkan rasa bangga
  4. Otoritas – contoh: kepatuhan, penghormatan pada tradisi, kerendah-hati-an
  5. Kesucian (sanctity) – contoh: pendapat publik yang bisa berbalik memaafkan seorang koruptor hanya karena dia berubah penampilan dengan memakai pakaian/simbol relijius.

Semua tindakan moral pasti mengandung satu atau lebih dari lima prinsip di atas. Meski prinsip ke-satu (welas asih) absen dari tindakan teroris, tapi pasti ada prinsip moral yang lain yang diperjuangkannya, apakah itu keadilan, loyalitas, atau kepatuhan pada yang diyakininya, atau bahkan kesucian. Inilah yang membuat persoalan terorisme menjadi tidak sederhana dan tidak mudah diselesaikan, apalagi hanya dengan membuat label-label semata. Bpk Primaldhi yang sudah mempelajari 700 BAP teroris sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada satu pattern pun yang bisa diambil sebagai generalisasi atas indikator pribadi teroris, termasuk ciri-ciri yang sering diasosiasikan masyarakat luas dengan ekstrimis Islam, seperti celana cingkrang, dahi hitam, cadar, dsb. “Sebagian besar mereka adalah ‘orang biasa’ yang tidak bisa dibedakan dari orang lain”, kata beliau.

Terakhir, inti dari Social Intuitionist Model sebagaimana dipaparkan Bpk Primaldhi dengan menggunakan bagan, adalah pandangan bahwa orang membuat keputusan moral tanpa menggunakan penalaran, melainkan dengan intuisi. Setelah keputusan itu diambil barulah dia membuat penalaran, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk menjelaskan kepada orang lain. Sebagaimana mungkin telah diketahui, intuisi adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang tanpa penalaran – dalam bahasa sehari-hari intuisi seringkali disebut dengan “perasaan‟. Secara kolektif (social), intuisi bisa dihasilkan dari kumpulan pengalaman kolektif dan pengaruh “budaya‟ yang ada di tengah masyarakat itu. Pandangan bahwa intuisi mendasari keputusan terlebih dulu sebelum penalaran, mengingatkan saya pada filusuf Karl Popper yang meyakini bahwa bahkan semua scientific theories sekalipun berasal dari intuisi – setelahnya barulah penalaran dibuat oleh si pembuat teori, justru untuk menjelaskan intuisinya itu.

Pertarungan Wacana Khilafah dan NKRI dalam Bingkai KeIndonesiaan

Narasumber-7: Siti Kholifah, S. Sos., Ph.D.
Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Dr. Kholifah adalah pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang, dengan interest di bidang political-sociology. Dalam kajian di PPMPI, presentasi yang disampaikan berjudul “Pertarungan Wacana Khilafah dan NKRI dalam bingkai KeIndonesiaan” yang diambil dari penelitian yang masih berlangsung (belum selesai). Penelitian itu memakai teori ‘discourse analysis’ Michel Foucault dalam menganalisa power (kekuasaan) melalui penggunaan ‘wacana’.

Foucault adalah sosiolog Perancis yang telah membuat konsep (me-re-konseptualisasi) ‘kekuasaan’ secara radikal. Menurut Foucault, ‘kekuasaan’ di masyarakat modern berbeda dengan di masyarakat pra-modern di masa lalu. Kini ‘kekuasaan’ bukan lagi sesuatu yang dijalankan melalui tindakan-tindakan memaksa (coercive acts) dan tindakan yang menunjukkan kedaulatan penguasa (sovereign acts), melainkan melalui penggunaan ‘bahasa’ dengan membuat wacana (discourse) dan ilmu pengetahuan (knowledge).

Penelitian Dr. Kholifah menunjukkan bahwa wacana (discourse) ke-Indonesiaan tidak lagi tunggal seperti di masa Orde Baru dimana ke-Indonesiaan adalah NKRI berdasarkan Pancasila. Kini ada wacana khilafah yang ingin dibangun oleh beberapa kelompok tertentu dan dijadikan wacana tandingan untuk NKRI. Namun, data yang terkumpul juga menunjukkan wacana khilafah vs. NKRI tersebut ‘diciptakan’ oleh kelompok lain lagi untuk meng-counter dan ‘mempertahankan diri’ dari ancaman gerakan ‘politik Islam’ pada saat Pilkada Jakarta yang salah satunya melalui gerakan 212. Dengan demikian media sosial telah menjadi tempat pertarungan wacana NKRI dan khilafah dalam bingkai ke-Indonesiaan.

Dari data yang terkumpul, intensitas yang tinggi munculnya wacana NKRI dan khilafah di twitter juga dipengaruhi konteks politik nasional, misalnya ketika kasus penistaan agama yang dituduhkan ke Ahok. Penelitian kualitatif tersebut dilakukan dengan menggunakan big data dari twitter melalui program software https://netlytic.org. Pengumpulan data mulai tanggal 10 Mei 2017 sampai 8 Agustus 2017. Analisis data berdasarkan periodisasi waktu, jaringan akun twitter dan posting yang dimunculkan dalam membentuk wacana ke-Indonesiaan. Selain itu, juga dilakukan analisa jaringan yang dimiliki oleh akun twitter baik yang ada pada cluster utama, maupun akun lain yang terhubung dengan cluster utama. Dari data yang sudah terkumpul, kata yang paling banyak digunakan dalam pertarungan wacana lewat twitter tersebut adalah: (1) khilafah dan (2) NKRI, disusul dengan (3) Pancasila, (4) HTI, (5) Ancaman, (6) Absurd, (7) Negara, (8) Gerakan, (9) Mendirikan, dan (10) Perjuangan.

Sebagai penutup Dr. Kholifah menyampaikan pendapatnya bahwa bukan tidak mungkin suatu hari wacana khilafah akan menjadi wacana dominan, terutama jika kita melihat dinamika politik Islam di Indonesia dibanding masa Orde Baru. Seandainya itu memang akan terjadi, Dr. Kholifah berharap ketika itu konsep khilafah yang dipahami oleh Umat Islam Indonesia adalah khilafah yang mengusung keadilan bagi kaum minoritas juga, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Community Well-Being untuk Mengatasi Ekstremisme Beragama

Narasumber-6: Dr. Lusy Asa Akhrani, S.Psi. M.Psi.

Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Dr. Lusy Asa Akhrani adalah pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Brawijaya, Malang, dengan spesialisasi di Psikologi Sosial. Dalam presentasi berjudul “Community well-being untuk mengatasi ekstremisme beragama” Dr. Asa menyampaikan beberapa point dari sudut pandang psikologi komunitas dengan terlebih dahulu mengingatkan bahwa ektrimisme beragama bukan hanya terjadi pada Islam. Menurutnya ektrimisme bisa terjadi karena beragam faktor, seperti: – Gangguan mental – Usia labil – Kesepian – Trauma psikologis – Identitas – Collective mind (cerita yang diturunkan orang tua kepada anaknya) – Fanatisme dan favoritisme kelompok.

Pandangannya bahwa ‘community well-being’ bisa diharapkan untuk mengatasi dampak buruk ekstrimisme beragama berangkat dari kenyataan bahwa kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya negara akan mengurusi semua kebutuhan kita. Oleh karena itu, mengupayakan kesejahteraan (well-being) komunitas adalah intervensi sosial yang bisa diusahakan oleh diri kita sendiri. Namun – sampai di situ Dr. Asa melemparkan pertanyaan kritis – “jika demikian keadaannya, maka dimana peran negara dalam hal ektrimisme beragama, apakah sebagai penyebab atau pemberi jalankeluar?

“Community well-being’ terdiri dari dua kata, yaitu: community (komunitas) dan wellbeing (kesejahteraan). Adapun yang dimaksud komunitas adalah sekelompok orang yang tinggal di suatu lokasi yang sama (komunitas berdasar lokasi, misalnya komunitas kampung, desa, kompleks perumahan), atau sekelompok orang yang mempunyai karakteristik, pandangan, tujuan, atau sejarah yang sama (warga NU termasuk di sini). Menurut Dr. Asa, semakin tinggi community well-being suatu komunitas, semakin rendah kecenderungan ekstrimisme [dalam arti ‘kekerasan beragama’] bisa berkembang dalam komunitas itu. Adapun ukuran community well-being suatu komunitas menurut Dr. Asa ditandai dengan: 1. Connectedness 2. Livebality 3. Equity.

Connectedness atau keterhubungan dibentuk melalui jaringan sosial masyarakat yang dicirikan dengan dukungan dan kepercayaan sosial yang tinggi, hidup bersama yang harmonis, keterlibatan warga yang tinggi, anggota yang berdaya untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan dalam demokrasi
Liveability yang ditandai dengan tersedianya infrastruktur yang layak ditinggali (liveable), termasuk perumahan, angkutan, pendidikan, taman dan rekreasi, pelayanan manusia, keamanan public, akses terhadap budaya dan kesenian.
Equity yang ditandai dengan keadilan sosial di mana semua anggota diperlakukan dengan adil, kebutuhan dasar terpenuhi (akses yang memadai terhadap layanan kesehatan, perumahan layak, makanan, keamanan diri), ada nilai-nilai keragaman (misal boleh berbeda pendapat), ada kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan memenuhi/ mengembangkan potensi individu. Dengan demikian, kesejahteraan materi bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan (wellbeing) komunitas, melainkan diperlukan juga adanya keterhubungan sosial dan terpenuhinya rasa keadilan sosial (baik pada diri sendiri maupun pada orang lain) untuk terbentuk community well-being yang tinggi.

Di samping itu, Dr. Asa menambahkan perlunya memperhitungkan kultur (budaya) setempat dalam membuat indikator community well-being suatu komunitas. [[Tambahan catatan dari saya: Dalam Studi Pembangunan, ‘community well-being’ dikenal sebagai satu konsep utama yang dipakai untuk mengukur dampak positif maupun negatif suatu proyek pembangunan. Secara umum, konsep ini sangat terkait dengan happiness (kebahagiaan), life satisfaction (kepuasan hidup), dan social capital (modal sosial), yang mana ketiganya termasuk social quality of life (kualitas kehidupan sosial) kita. Karena itulah konsep community well-being termasuk satu dari sekian banyak konsep yang bersifat subyektif dan sulit diukur namun sangat nyata dalam
menimbulkan dampaknya. Secara lebih obyektif, community well-being diukur melalui 3 indikator berikut pada anggota komunitas:
1. Kesejahteraan ekonomi.
2. Partisipasi pasar (keterlibatan anggota komunitas dalam sistem perekonomian).
3. Dampak/hasil kebjakan sosial terhadap komunitas itu.
Dengan demikian community well-being menjadi interest bersama antara bidang studi Psikologi, Ekonomi dan Politik. Perlu digaris bawahi, dalam konteks NU, pembahasan ini sangat relevan mengingat ‘Nahdliyin’ adalah satu komunitas tersendiri, dan mengupayakan community well-being untuk warga NU adalah usaha yang patut diperjuangkan. ]]

Di dalam diskusi, Dr. Asa menceritakan penelitiannya atas kelompok yang sering dijuluki sebagai ekstrimis Islam, yaitu, Front Pembela Islam (FPI). Penelitian tersebut memakai perspektif psikologi konflik agama, ditinjau dari (1) social value orientation, (2) identitas sosial, (3) fanatisme agama, (4) konformitas, (5) religious prejudice, (6) toleransi agama, dan (7) intensi konflik (niat berkonflik). Dari indikator-indikator tersebut, penelitian Dr. Asa menunjukkan bahwa FPI tidak bisa dianggap sebagai kelompok ‘ekstrimis’ sebagaimana anggapan umum selama ini. Sebaliknya, penelitian itu justru menunjukkan FPI merupakan komunitas yang kuat dan berdaya yang lahir dari ketidak puasan secara politik atas berbagai hal sehingga mendorong mereka memenuhi wellbeing nya dengan bergabung dalam satu kelompok. Dr. Asa sedang menyelesaikan penulisan hasil penelitian tersebut untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah.

Ekstrimisme Beragama Tidak Berbeda Dengan Eksrimisme Pada Ideologi Sekuler Lain

Narasumber-5: Rizqy Amelia Zein, M.Sc.
Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Ibu Rizqy Amelia Zein adalah pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya. Gelar Sarjana Psikologi diperoleh di Universitas Airlangga dan gelar M.Sc. di University of Edinburg, United Kingdom. Bidang keahlian Ibu Amel adalah psikologi sosial dan psikologi politik, dengan interest penelitian pada persoalan psikologi sosial nasionalisme; persoalan konflik etnis, nasional dan agama dalam kaitan dengan identitas etnis, nasional dan agama. Pada kajian PPMPI tersebut, Ibu Amelia mempresentasikan tesisnya yang mengatakan bahwa “ekstrimisme‟ beragama sebetulnya tidak berbeda dengan eksrimisme pada ideologi sekuler yang lain.

Beliau meyakini bahwa “power struggle‟ (perebutan kekuasaan) adalah inti persoalan yang menjadi penyumbang terbesar ekstrimisme beragama. Analisanya dimulai dengan menunjukkan hubungan/kesamaan antara identitas keagamaan dan identitas etnis/racial, yaitu bagaimana masing-masing bisa memproduksi prasangka (prejudice) pada kelompok di luar dirinya. Dalam hal ekstrimisme beragama, menurut penelitian Ibu Amelia, sikap yang mudah memunculkan prejudice pada kelompok lain adalah ketika seseorang beragama secara:

  1. Fundamentalis, dengan arti, sikap literal (mengikuti teks begitu saja) terhadap ajaran agama.
  2. Extrinsic religiosity, yaitu beragama karena motivasi mendapatkan sesuatu diluar spiritualitas. Misalnya: status sosial, rasa aman, keinginan diterima kelompoknya Sebaliknya, sikap beragama yang dipenuhi dengan “kesalehan‟ atau intrinsic religiosity cenderung memotivasi seseorang pada toleransi.

Yang dimaksud intrinsic religiosity adalah beragama bukan karena motivasi apapun di luar pencarian spiritualitas atau kedekatan hubungan dengan Tuhan. Menurut Ibu Amelia sikap tersebut merupakan kebalikan extrinsic religiosity di point kedua di atas. Dalam menjawab pertanyaan “apa yang membuat seseorang menjadi bersikap sektarian – yaitu, sikap memisahkan diri dari kelompok besarnya dan membuat kelompok-kelompok sendiri?”, Ibu Amelia mengumpulkan jawaban dari berbagai literatur Psikologi dan memberikan contoh-contoh bahwa sikap sektarian bisa disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya: 1. Genetik (keturunan) 2. Struktur otak 3. Pengaruh sosial (masyarakat) 4. Identitas sosial yang kental 5. Kepribadian (individu) 6. Perebutan kekuasaan (power struggle dan identitas politik) yang telah disebut di atas Sebagai contoh beliau menunjukkan studi-studi menarik di bidang Bio-Psychology, termasuk beberapa studi yang mengatakan bahwa sifat bangga pada suku/bangsa (ethnocentrism), serta political attitudes (sikap politik), pun ternyata diturunkan melalui gen.

Dengan nada bergurau Ibu Amelia mengatakan “jangan-jangan kebanggan suku Jawa sebagai suku yang paling tinggi budayanya dibanding suku-suku lain di Indonesia sebetulnya adalah sikap ethnocentrism yang diturunkan melalui gen suku Jawa”. Ada hal penting yang perlu digaris-bawahi, yaitu, ternyata perbedaan kepribadian manusia menentukan juga perbedaan sikap, interest (ketertarikan), kecerdasan, dan emosi antara satu orang dengan yang lain, yang mana hal itu semua sangat mempengaruhi bagaimana orang itu mendekati agama dan meng-asosiasi-kan agama dengan persoalan hidup (sosial/politik/ekonomi) yang dihadapinya.

Akhirnya, sebelum menutup, Ibu Amelia menunjukkan studi Laurence R. Iannaccone dari Department of Economics, George Mason University, Fairfax, VA, US, dan Eli Berman dari Department of Economics, University of California, San Diego, CA, US, yang berjudul: “Religious extremism: the good, the bad, and the deadly” Artikel itu mengatakan bahwa ekstrimisme beragama ternyata tidak selalu buruk (bad) dan berbahaya (deadly), melainkan seringkali juga bisa baik (good). Dalam studi tsb Laurence R. Iannaccone dan Eli Breman menantang anggapan umum bahwa “teologi militan‟ lah sebagai sumber kekacauan. Sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa ketika pemerintah gagal memberikan kesejahteraan pada rakyatnya, seringkali justru kelompok „esktrimis agama‟ (sects) lah yang turun tangan menyuplai „pelayanan‟ yang diperlukan oleh masyarakat (terutama anggotanya), baik bersifat material maupun spiritual.

Kelompok ekstrimis tersebut biasanya juga mampu melakukan tindakan politik dan memobilisasi tekanan pada pemerintah. Kedua penulis, Iannaccone dan Breman, menentang anggapan umum bahwa kapabilitas kelompok-kelompok itu hanya bersandar pada modal teologi semata. Menurut mereka, struktur organisasi yang solid lah yang telah membuat kelompok-kelompok itu mampu.

Adapun solusi untuk menekan kekerasan atas nama agama, menurut Ibu Amelia, bukan dengan intervensi kekerasan seperti yang sudah dilakukan selama ini melainkan memberikan kombiasi pelayanan sosial pada umat yang termarjinalkan, melibatkan ormas-ormas Islam dalam politik (bukan hanya melalui sistem elektoral partai), serta tindakan pemerintah yang non-diskriminatif terhadap semua aliran-aliran Islam yang ada.

Hubungan Persoalan ‘Identitas’ dan Sikap Ekstrimis

Narasumber-4: Dr. Achmad Chusairi

Ringkasan ini dibuat oleh Wardah Alkatiri, Ph.D.

Dr. Achmad Chusairi adalah pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, dengan fokus penelitian pada persoalan ‘self’ (diri) dan ‘identity’ (identitas), psikologi kritis, dan psikologi sosial. Dalam presentasinya di kajian PPMPI, Dr. Chusairi memaparkan hubungan antara persoalan ‘identitas’ dan sikap ekstrim seseorang. Di dalam khazanah ilmu Psikologi, “identitas‟ merupakan sebuah konsep yang sangat fundamental (mendasar). ‘Identitas’ adalah ‘cerita’ atau ‘representasi’ seseorang tentang ‘diri’ nya sendiri. Dalam teori psikologi tentang pikiran manusia (theory of mind), ‘representasi’ adalah proses menghadirkan sesuatu yang abstrak ke dalam pikiran manusia dengan bantuan simbol-simbol.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa semua hal atau semua ‘realitas’ di dunia manusia merupakan ‘representasi’ mereka atas hal-hal tersebut. Oleh karena itu, ‘identitas’ merupakan kebutuhan mendasar setiap orang karena dengan ‘identitas’ itulah dia dapat ‘melihat’ dirinya sendiri. Agama, ideologi, etnisitas, kebangsaan, dinasti, garis keturunan, keanggotaan organisasi massa dan politik, hingga keprofesian menawarkan ‘identitas’ pada anggotanya. Selanjutnya, ‘identitas’ berfungsi menjadi kerangka berfikir dan berperilaku bagi individu tersebut. ‘Indentitas’ nya itu memungkinkan seseorang memahami diri dan lingkungannya, serta eksistensinya, di dalam ‘ruang dan waktu’ dimana dia berada secara „nalar‟ dan teratur.

‘Identitas’ itu juga memungkinkan dia memahami dirinya dan kenyataan hidupnya secara bermakna. Di sini perlu digaris-bawahi, bahwa manusia mempunyai kebutuhan akan: 1. Kepastian, dan 2. Kebermaknaan Semua orang cenderung menginginkan segala sesuatu dapat dinalar, teratur dan dapat diprediksi. Dr. Chusairi melihat kebutuhan inilah yang menjadi sumber ke-ekstriman ketika seseorang berada dalam ketidak-teraturan dan mendapati logika yang semrawut di tengah masyarakat. Dengan kata lain, semakin plural (beragam) suatu masyarakat, serta semakin mudah terlihat olehnya ketidak-adilan dan ketimpangan sosial di sana, semakin subur masyarakat itu melahirkan ke-ekstriman.

Dalam keadaan yang demikian, agama (sebagai satu-satunya hal yang dapat diperoleh dengan ‘gratis’ tanpa biaya) menjadi tempat bernaung dari kekacauan logika dan ke-tidak-adilan. Oleh karena itulah mereka mendekati agama dari sisi-sisi yang menawarkan kepastian dan keabsolutan. Dr. Chusairi menambahkan, persoalan ini di Indonesia menjadi semakin runyam karena pendidikan di sini tidak mengenalkan siswa pada lebih dari satu perspektif sejak dini [Catatan: perlu diingat, Indonesia mempunyai dua perangkat kurikulum, yaitu: ‘kurikulum Islam’ menanamkan ‘identitas Islam’ secara absolut, dan ‘kurikulum nasional’ menanamkan ‘identitas nasional’ secara absolut pula], sehingga ketika dewasa dan menemui zaman global dimana sekat-nekat antar-negara dan bangsa telah menipis, orang Indonesia tidak terbiasa melihat persoalan dari berbagai perspektif dan cenderung berfikir tertutup dan simplistic.

Point terakhir yang menarik, ‘Identitas’ bisa bersifat cair dan bisa juga ‘rigid’ (kaku). Biasanya, seiring dengan bertambahnya usia dan semakin menurunnya kemampuan seseorang beradaptasi dengan perbedaan, perubahan dan kekacauan, semakin ‘rigid’ identitas orang tersebut (identitas agama, ideologi, etnisitas, kebangsaan, dinasti, garis keturunan, keanggotaan organisasi massa dan politik, hingga keprofesian}. Menurut Dr. Chusairi, semakin ‘rigid’ identitas seseorang semakin mudah dia menjadi ‘ekstrim’ {dalam rangka mempertahankan/membela/memperjuangkan group/kelompok yang telah memberinya ‘identitas’ tersebut).

Aspek Kesehatan Mental Pada Ekstremis Agama

Narasumber-3: dr. Hafid Algristian Sp. KJ.

Hafid Algristian adalah seorang dokter spesialis ilmu jiwa (psikiatri) yang menjadi pengajar di fakultas kedokteran UNUSA. Dalam presentasinya “Aspek Kesehatan Mental pada Ekstremis Agama” dr. Algristian menegaskan bahwa makalahnya tidak bermaksud menambah keruhnya kegelisahan [dan kebingungan] masyarakat, apalagi menuduh pihak-pihak tertentu, melainkan ikut berkontribusi dalam usaha meletakkan permasalahan keekstriman beragama agar dapat dilihat secara lebih obyektif dan saintifik.

Dari sudut pandang ilmu kesehatan jiwa, menurut dr. Algristian perilaku ekstrim tidak selalu menandakan ada gangguan kesehatan jiwa. Perilaku tersebut dapat didasari oleh sebuah permasalahan dalam jiwa seseorang yang sebenarnya jauh lebih dalam tersimpan. Dalam konteks „ekstremisme‟ tersebut, dr. Algristian membagi kepribadian atau keadaan mental manusia menjadi 4, yaitu: individual, konservatif, ekstrismis dan yang terakhir teroris yaitu orang yang suka menimbulkan ketakutan pada orang lain.

Masing-masing kepribadian tersebut ditandai dengan tingkat keaktifan bagian saraf otak yang berbeda-beda. Disebutkan dr. Algristian, dalam sebuah studi functional MRI, ditemukan bahwa perilaku “ekstrim‟ berhubungan dengan bagian-bagian otak yang “berespon berlebihan” terhadap stimulus eskternal (luar kiri):

  • Perilaku individualis berhubungan dengan medial prefrontal cortex dan
    temporoparietal junction, dimana bagian otak ini bertugas dalam olah perilaku yang berhubungan dengan orang lain. Mereka yang individualis memiliki aktivitas otak yang rendah di bagian ini, sehingga cenderung kurang merespon orang-orang di sekelilingnya.
  • Perilaku konservatif berhubungan dengan dorsolateral prefrontal cortex, dimana bagian otak ini bertugas untuk pengambilan keputusan pada situasi yang membingungkan. Seorang yang konservatif memiliki aktivitas yang berlebihan pada bagian otak ini, sebagai responnya untuk menyelesaikan konflik-diri agar terlepas dari perasaan ragu-ragu, mereka tampak tegas, keras, kaku, sangat memegang teguh prinsip, sebagai mekanisme adaptasi terhadap ketidakpastian.
  • Perilaku radikal berhubungan dengan ventral striatum dan posterior cingulate. Menariknya, ventral striatum adalah bagian otak yang bertugas memunculkan motivasi untuk mengejar kepuasan ketika berhasil mencapai keinginannya, termasuk mendorong sikap moderat dalam berkumpul dan bekerja sama. Sementara posterior cingulate, adalah bagian otak yang merespon hal-hal kekerasan terutama yang berhubungan dengan pengalaman di masa lalu. Dengan demikian, ada perilaku kontradiktif di sini, seorang radikal seringkali juga seorang yang penyayang. Dia merespon kekerasan dengan kekerasan karena dimotivasi oleh keinginan untuk mencapai kehidupan bersama yang lebih baik dengan orang lain.
  • Adapun perilaku teror (pelaku: teroris), lebih kompleks lagi. Terorisme adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menimbulkan perasaan takut dalam diri orang lain. Menurut dr. Algristian, perilaku ini sangat mirip dengan perilaku anti-sosial-sadistik dimana seseorang bisa bahagia di atas penderitaan orang lain. Aktivitas ventromedial prefrontal cortex pada otak mereka menurun, mirip pada seorang individualis yang berbuat kriminal, dimana ia tidak mudah merasakan empati kepada orang lain.

Akhirnya, dr. Algristian membahas cukup panjang dengan memberi contoh-contoh spiritual pain (nyeri spiritual) yang banyak dirasakan manusia di zaman modern akibat perasaan hampa (emptiness) dan rutinitas tanpa makna (state of meaninglessness). Spiritual pain tersebut merupakan sebuah penderitaan yang sangat menyakitkan. Dalam keadaan itulah seseorang bisa kembali mencari agama, atau mudah terprovokasi slogan-slogan keagamaan. Namun, menurut dr. Algristian, efek agama bagi mereka tidak selalu bersifat therapeutic (menyembuhkan) jika mereka tidak berhasil menemukan spiritual connectedness (keterhubungan spiritual) yang memberi ketentraman jiwa dan keinginan hidup yang lebih harmonis.

Perspektif Sosiologis Ke-ekstriman Beragama

Narasumber-2: Muhammad Najib Azca, Ph.D.

Dr. Najib, dari Center for Security and Peace Studies (UGM, Yogjakarta), adalah seorang Sosiolog dari, pendidikan S1 Sosiologi, UGM (1996), S2 dari Southeast Asian Studies Program di Australian National University (ANU) tahun 2004, lalu mengambil Ph.D di Amsterdam School for Social Science Research (ASSR) Universiteit van Amsterdam (UvA). Riset doctoral Dr. Najib adalah “After Jihad, Tracing Personal Trajectories of non-local Jihad Fighters after Their Participation in Jihad in Indonesia”. Riset tsb meneliti kehidupan social-politik pejuang jihad di Poso dan Ambon setelah konflik berakhir, dengan mengamati jalur kehidupan para aktor. Terinspirasi pendekatan “passionate politics‟ dalam teori gerakan sosial, Dr. Najib meneliti dan membandingkan tiga ragam aktivisme keislaman dalam kategori: pious (puritan); jihadi, dan political (Islam politik) dalam tiga periode kisah hidup yang berbeda: sebelum, selama, dan setelah jihad.

Dalam presentasi di PPMPI berjudul “Perspektif Sosiologis Ke-ekstriman Beragama” Dr. Najib memulai dengan menunjukkan kesulitan mempermasalahkan persoalan ini, terutama dalam membuat batasan antara “ekstrim‟ dan “tidak ekstrim‟, “radikal‟ dan “tidak radikal‟, khususnya mengingat ada “ekstrim dengan kekerasan‟ dan ada juga “ekstrim tanpa kekerasan‟. Dr, Najib membuat analisa sosiologis atas penyebab ke-ekstriman beragama dalam tiga level, yaitu:

1.  Macro, yang merupakan akar persoalan secara luas (“root causes‟, yang bersifat struktural dan kultural, seperti warisan struktur dan kultur (budaya) dari Penjajahan Belanda di masa lalu). Secara umum, menurut Dr. Najib, kemunculan “ektremisme Islam‟ di Indonesia sejak masa pasca Orba berakar historis struktural dan kultural pada masa kolonial dan juga pada masa awal kemerdekaan (postkolonial).

Ekstrimisme sebagai persoalan struktural dapat diakibatkan dari ketimpangan sosial-struktural berdimensi politik-ekonomi yang ada di masyarakat Indonesia, yang dengan konteks tersebut maka dominasi politik-ekonomi oleh kelompok non-Muslim dapat dengan mudah menimbulkan grievances yang memunculkan fenomena radikalisme/ekstremisme di kalangan Muslim.

Dr. Najib menyebutkan ketimpangan sosial-ekonomi yang berkombinasi dengan dominasi kelompok “minoritas‟ etnis Tionghoa bisa menjadi konteks ekstrimisme, baik ekstrimisme berdasarkan agama maupun ekstrimisme berdasarkan etnisitas; Ekstremisme sebagai “gejala‟ kultural dapat dihasilkan dari deprivation (proses pemiskinan), anomie (keruntuhan standard nilai etika dan moral), serta inferioritas (minder) sosial kultural yang berdimensi sejarah. Misalnya, pengalaman panjang berada di bawah hegemoni non-Muslim memunculkan anomie dan minority complex di kalangan Muslim yang selanjutnya menimbulkan “radikalisme/ekstremisme‟. Contoh lain, Dr. Najib menambahkan tentang warisan trauma sejarah kontestasi antaragama di masa kolonial Belanda, khususnya antara Muslim vs Kristen, yang direproduksi selama orde baru.

2. Meso sebagai penyebab perantara (“proximate causes‟, yang diidentifikasi melalui dua lensa konseptual utama, yaitu, jejaring sosial dan identitas kolektif). Misalnya: “ekstrimisme‟ bisa muncul dengan mudah ketika ada “identitas kolektif‟ (baik berdasarkan agama, bangsa, maupun etnisitas) karena perasaan di bawah ketidak-adilan. Di era global ini, dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi, pembentukan identitas kolektif tersebut dapat terjadi dengan lebih mudah.

3. Micro sebagai “pemicu‟ (“triggering causes‟, dengan lensa konseptual yang lebih kecil seperti biografi pribadi, pertemanan dan keluarga). Dr. Najib menyampaikan bahwa banyak riset yang menemukan bahwa proses rekrutmen dan keterlibatan dalam gerakan radikal/ekstremis dilakukan melalui relasi berbasis kekeluargaan, kiship (kekerabatan) dan peer-ship (teman). Namun, seluruh proses tersebut pada akhirnya berlangsung pada level biografis-personal.

Untuk merespon gerakan „ekstimisme kekerasan‟ (yaitu gerakan yang menjustifikasi penggunaan kekerasan untuk mecapai tujuan moral-politik mereka), Dr. Najib mengusulkan bukan lagi menggunakan cara “counterterrorism‟ sebagaimana dicanangkan dalam proyek “global war on terror‟, melainkan melalui program “counter-violent extremism‟ (CVE) yang terlebih dahulu mengenali, dan kemudian mengarahkan solusi pada penyebab struktural persoalan, yaitu: persoalan marjinalisasi sosial-eknomi-politik, diskriminasi berdasarkan etnis dan agama, pelanggaran HAM, dan tata kelola pemerintahan yang buruk (kegagalan pemerintahan).

Lima langkah yang disulkan adalah:

1.  Strategi komunikasi dan pelibatan sosial

  • Metode yang digunakan melalui pembentukan atau aktivasi forum komunikasi dan aksi lintas agama (FKUB dan sejenisnya).
  • Sebaiknya tidak berorientasi seremonial; namun lebih pada pola komunikasi dan interaksi yang bersifat reguler dan informal.
  • Selain kegiatan yang berbentuk komunikasi, kegiatan yang berwujud aksi dan kegiatan bersama sering lebih efektif: gotong royong, pendidikan, dsb.

2. Strategi pelibatan dan partisipasi politik

  • Metode yang digunakan melalui pelibatan dan undangan partisipasi dalam kegiatan yang menyangkut “urusan publik” maupun kegiatan “politik formal”.
  • Sebagian kelompok yang berpendirian “anti-demokrasi” akan menolak kegiatan yang „berbau demokrasi‟ à misalnya gunakan terminologi „musyawarah‟ ketimbang demokrasi‟ dsb.
  • Sebaiknya tidak berorientasi pada aspek seremonial; namun lebih pada pelibatan dan partisipasi dalam “isu dan kepentingan bersama”

3. Strategi pemberdayaan & penguatan ekonomi

  • Metode yang digunakan melalui pemberdayaan ekonomi kelompokkelompok rentan atau aktivasi kegiatan ekonomi lintas-kelompok
  • Dalam konteks pembangunan pasca-konflik, program ekonomi terbukti menjadi alat yg efektif karena “uang tidak punya agama”: contoh “Pasar Bakubae” di Ambon Maluku
  • Kelompok yang secara ekonomi rentan dan lemah juga lebih berpotensi untuk terlibat dalam aksi dan gerakan radikal

4. Strategi perlindungan hukum dan pemberdayaan HAM

  • Metode yang digunakan melalui pemberian layanan perlindungan hukum kepada kelompok-kelompok rentan serta pemberdayaan pengetahuan hukum & HAM
  • Metode ini menarik dan cukup sulit karena harus dilakukan dalam “paradoks‟: kadang kelompok sasaran menolak „hukum sekuler‟ yang dijadikan alat utk melindungi mereka dalam proses hukum yang harus dilalui
  • Jika diyakinkan bahwa hukum bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk “melindungi diri‟, secara perlahan bisa mengurangi tendensi penggunaan kekerasan

5. Strategi kontra-ideologi dan narasi

  • Metode yang digunakan bisa melalui “konfrontasi‟ maupun “persuasi‟; metode konfrontasi kadang diperlukan dalam forum diskusi dan debat publik sedang metode persuasi dilakukan melalui forum informal maupun publikasi.
  • Metode “konfrontasi‟ atawa kontra-ideologi merupakan bagian dari “kontestasi opini dan pemikiran” untuk melawan tafsir-radikal terhadap agama
  • Metode “persuasi‟ atawa kontra-narasi merupakan bagian dari “kontestasi narasi” yang menyertai “kontestasi ideologi”, terutama melalui media dan saluran populer dalam komunikasi publik.

Religious Extremism dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi

Narasumber-1: Prof. Masykuri Abdillah Rais Syuriah Nahdlatul Ulama. Guru besar dan Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan keahlian Fikih Siyasah (Politik Islam).

Riwayat pendidikan Prof. Abdillah:

  • Sarjana Muda (BA), Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Indonesia, Syariah, 1981
  • Sarjana Lengkap (Drs.), IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia, Syariah,
    1995
  • Doktor (S3), Hamburg University, Jerman, Islamic Studies at the Department of Middle Eastern History and Culture
  • Post-doctoral program di Bonn University
  • Post doctoral program di Boston university Prof. Abdillah memaparkan

Kronologi munculnya Islam ‘garis keras’ di dunia Islam yang, ionisnya, diawali dengan gerakan atau pemikiran reformis/modernis Muslim yang ingin mereformasi Islam agar bisa mengimbangi kekuatan Barat seperti Muhammad Abduh di Mesir. Gerakan itu berpuncak pada Sayyid Qutb yang kini dianggap paling bertanggung jawab pada aliran garis keras Islam di era ini, yaitu, yang secara garis besar dinamai Salafi dan Wahabi. Menurut Prof. Abdillah keduanya mempunyai akidah yang sama meski fikih nya berbeda, dan masing-masing memiliki pengikiut dengan level moderat, fanatik, radikal, hingga ekstrem. Situasi perpecahan umat Islam di Indonesia, menurut Prof. Abdillah, sangat dipengaruhi oleh ‘proxy war’ [istilah tambahan penulis] antara Saudi dan Iran yang masing2 mempunyai misi terhadap, yang pertama, faham Sunni Wahabi sedang yang satu lagi, Syiah. Prof. Abdillah mengingatkan perlu diperhatikan adanya doktrin al-wala’ walbara’ yang terselip dalam buku2 agama di sekolah, karena jika disampaikan dengan cara yang tidak arif doktrin tersebut bisa menjadi sumber pemicu kebencian pada kelompok yang dianggap tidak se-iman.