Echoteology, Sebagai Ikhtiyar Green-Ecology

Beberapa tahun terakhir di negara kita yang tercinta banyak sekali musibah yang menimpa, mulai banjir, gunung meletus, angin puting beliung, tsunami, gempa bumi, dll silih berganti menimpa masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Kita sadari atau tidak perubahan iklim dan rusaknya lingkungan disekitar kita semuanya dipengaruhi segala aktifitas kita terhadapnya. Dan masalahnya kita tidak sadar akan itu semua, tidak segalanya musibah datang atas nama ujian dari Tuhan, bisa jadi sebuah peringatan atas segala aktifitas yang telah kita lakukan selama ini.

Seperti halnya kita bermasyarakat dan bersosial dengan sesama manusia kita dituntut untuk memiliki tatakrama, begitu juga kita beraktifitas dengan lingkungan harus memiliki etis-ekologis yang baik. Perkembangan moderninasai dengan teori kapitalisasi yang antroposentrismenya ternyata memunculkan berbagai kecemasan baru, radikalisme dan penyebaran kemarahan sebagai contohnya. Para ahli echotheology, perkembangan yang memeprihatinkan tersebut disebabkan karena pengabaian terhadap apa yang ditawarkan oleh agama. Justru kapitalisme menyingkirkan argumen dan konsep yang ditawarkan oleh agama dalam menghadapi kehidupan sembari mengandaikan bahwa alam tiada lain disiapkan untuk dieksploitasi manusia.

Penyebab munculnya berbagai bencana bukan semata-mata peristiwa alam. Sebagian bisa dijelaskan sebagai akibat ulah manusia yang tidak bisa membendung ‘libido ekonominya’ yang sangat kuat sehingga sering mengabaikan resiko bencana yang akan terjadi. Etika lingkungan sangat dibutuhkan jika ingin merespon alam berupa kemurahan dan keramahan lingkungan hidup. Perlaku etis-ekologi kata Blackburn (2001) akan memandu manusia untuk mengukur pantas tidaknya cara kita memperlakukan lingkungan di sekitar kita.

Dalam praktik cara pandang desacralizing nature para aktifis lingkungan hanya mendasarkan pengendalian semesta terkait dengan urusan ilmu pengetahuan dan teknologi, hal ini menurut para ahli echotheology yang menjadi panggal akan krisis lingkungan yang terjadi. Krisis ini telah memudarkan kepercayaan pada percobaan masa modern untuk membahagiakan manusia. Semakin banyak pemikir-pemikir alternatife yang menyarankan bahwa pemulihan harus datang dari dalam diri manusia, bukan hanya dari sisi politis yang sistematis.

Melihat betapa buruk dan mirisnya keadaan lingkungan dan dampaknya kepada kehiduoan manusia, maka dari sinilah kita bisa paham betapa pentingnya mengubah cara pikir kita, tidak semata saintis, tetapi juga etis dan theologis. Sebuah gerakan untuk membangun etika lingkungan sebenarnya sudah mulai tumbuh. Akan tetapi tidak puas dengan kalangan antroposentris sekuler yang menopang cara berpikir kapitaslime, yang belakangan muncul gerakan untuk memilih model-model budaya dalam memahami lingkungan. Model kultural ini menegaskan tiga hal, (1) alam memiliki sumberdaya yang terbatas, (2) alam diciptakan dalam prinsip keseimbangan, satu sama lain saling bergantung, dan karenanya rentan akan intervensi manusia, dan (3) materealisme dan sedikit hubungan dengan alam hanya menjadikan masyarakat cenderung mendevaluai alam (Kemtom, Boster, dan Hartley, 1995).

Sebagin lagi justru mengajak untuk lebih menaruh perhatian kepada agama. Oleh karena itu belakangn muncul berbagai gerakan dan aktifis yang mencoba kembali menengok peran agama. Di kalangan ilmu Sosial misalnya menawarkan agar sosiologi beralih ke sosiologi agama. Cara agama mentransformasikan kehidupan tentu saja ditempuh melalui berbagai model. Jika menggunakan pendekatan konstruksionis, agama dengan nilai-nilai yang ditawarkan tentang lingkungannya diinternalisasi oleh individu sebagai agent, sehingga membentuk realitas subyektif. Nilai-nilai subjektif tersebut menjadi inti dari self-concept atau schemata menurut kalangan fenomenologis. Self-concept itu kemudian dijadikan sebagai modal untuk mengkonstruk, merespon dan membentuk realitas obyektif yang berada di luar dirinya. Termasuk mengkonstruk, merespon dan membentuk alam lingkungan dimana ia tinggal.

Jika agama yang menjadi schemata individu dalam mengkonstruk lingkungannya, maka tentu yang ia kembangkan adalah perilaku etis dan rasa tanggung jawab untuk membangun lingkungan yang ramah kepada manusia. Agama memang memberikan penekanan pada etika dan rasa tanggung jawab terhadap alam. Oleh karena itu agama menawarkan kepada manusia agar memberi perhatian terhadap alam dan lingkungan dengan komitmen bahwa alam memiliki dan berada dalam tatanan nilai. Alam memiliki nilai, karena alam lebih dekat dengan kita, lebih suka kepada kita, lebih akrab dengan kita, daripada kita menyadari dan memahaminya.

Upaya untuk mewujudkan green-ecology memang tidak mudah, namun juga tidak mustahil untuk kita mulai dengan echotheology. Perilkau ini akan mudah terbentuk jika pesan-pesan theologis dengan berbagai diskursusnya tentang kelestarian lingkungan, pengendalian yang jelas dalam mengeksploitasi alam, pola relasi manusia terhadap alam, mendapatkan perhatian yang lebih. Sehingga diskursus etika dan ketuhanan bisa dijadikan inspirasi untuk membangun kekuatan dan membuka lebih lebar untuk terwujudnya gree-ecology.

-M. Afwan Romdloni-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *